Langsung ke konten utama

Wafatnya Ulama Sepuh Nasionalis.

Saat menulis tulisan ini, tangan dan otakku seperti kompak melakukan pekerjaannya untuk menggambarkan seorang tokoh manusia terbaik yang pernah Allah SWT. lahirkan di bumi penggalan surga, INDONESIA. Mungkin tulisan ini tidak secara ekplisit menggambarkan tentang nasionalis beliau secara keseluruhan. Karena jika hal itu penulis tulisankan semua, mungkin tidak akan cukup waktu untuk menggambarkan dan menuliskan kekaguman penulis terhadap sosok beliau yang sangat kharismatik. Ya, sangat kharismatik.

Beliau yang dimaksud bernama Syaikhona K.H. Maimoen Zubair yang wafat pada selasa, 06 Agustus 2019 lalu, di tanah suci Mekkah dan dimakamkan di Maqom Ma'la dekat dengan Sayidah Khodijah AlKubro RA, guru beliau Sayid Alawi al Maliki dan juga Abuya Sayid Muhammad Alawi al Maliki.

Dalam dewasa ini, kita tidak lagi menemukan patron kebaikan untuk dijadikan motivasi (motivator); mungkin kita perlu ke rumah sejarah untuk menghidupkan semangat mereka yang telah tiada. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan kondisi kita sebagai generasi saat ini yang tidak jelas artak, fakta dan kebudayaannya. Mbah Moen memang telah tiada tapi semangat kebangsaan beliau masih sangat lekat dalam pikiran kita.

Dalam sebuah kisah ketika Mbah Moen mengumpulkan semua santrinya di pondok pesantren Al-Anwar Sarang Rembang beliau mengatakan Indonesia ini rumahmu, jika belanda pernah menjajah kita itu wajar, karna itu bukan rumah nya. Tapi kita adalah orang Indonesia yang menjadi pribumi lalu merusak rumah kita sendiri, inikan sangat aneh bin ajaib. Lalu, dengan mantap Beliau juga melanjutkan bahwa kita itu orang Indonesia yang beragama islam bukan orang islam yang tinggal di Indonesia. Menurut penulis, ini merupakan sebuah sebuah filsafat dan kalimat sukar yang perlu penalaran yang cukup tinggi.

Ketika kita telusuri silsilah keilmuan KH. Maimun Zubair ini merupakan seorang alim ulama yang merupakan murid dari Ulama besar Syaikh SaĆ­d al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al-Makky.

Mbah Moen adalah ulama yang sangat dihormati, dia merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Mbah Moen juga dikenal sebagai Mustasyar Nahdlatul Ulama (NU). Sejak kecil dikenal sebagai anak yang taat akan agama. Pada tahun 1945 beliau bertolak ke Kota Kediri untuk mengasah ilmunya di Pondok Lirboyo, Jawa Timur yang pada saat itu di bawah pengasuhan KH Abdul Karim, KH Mahrus Ali dan KH Marzuki.

Tidak hanya di Indonesia, KH. Maimun Zubair kemudian melanjutkan kelana ilmunya di Mekkah Mukarromah pada usia 21 tahun. Ketika melakukan perjalanan ke Mekkah ini, KH. Maimun Zubair ditemani oleh kakeknya sendiri yaitu KH. Ahmad bin Syuaib.

Meski sedang mencari ilmu di Mekkah, KH. Maimun Zubair tetap menyempatkan untuk menuntut ilmu kepada Ulama Jawa yang berada di Mekkah seperti Kiai Baidhowi, Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban) dan beberapa Ulama lainnya.

Selain dikenal sebagai ulama, Mbah Moen juga dikenal sebagai politisi. Dalam dunia politik, Mbah Moen pernah menjadi anggota DPRD kabupaten Rembang, Jawa Tengah selama 7 tahun. Selain itu Mbah Moen juga pernah menjadi anggota MPR RI yang mewakili daerah Jawa Tengah selama tiga periode.

Dalam politik, Mbah Moen memilih bergabung ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Di saat NU sedang ramai mendirikan PKB tahun 1998, Mbah Moen lebih memilih tetap di PPP, partai dengan gambar Ka’bah. Di PPP Mbah Moen menduduki posisi sebagai Ketua Mejelis Syariah PPP. Mbah Moen pernah mengatakan “Kehadiran PPP bukan hanya untuk agama (Islam), tapi untuk bangsa Indonesia,” kata Ulama karismatik pengasuh Ponpes Al-Anwar ini, saat menghadiri Harlah PPP di Bantul, (16/1/2019).

Inilah yang menarik dari serang ulama kharismatik seperti Mbah, beliau tidak hanya di kenal sebagai ulama melainkan politisi yang sangat memperhatikan eksistensi kemanusiaan. Hal ini sangat kompak dengan yang pernah di katakana oleh Syaikhona K.H. Aburrahman Wahid atau yang lebih di kenal dengan panggilan Gus Dur yang pernah mengatakan “diatas politik itu kemanusiaan. Politik itu hanya jalan menuju kemanusiaan”.

Menurut penulis, mengapa Mbah Moen mau berpartai politik mungkin jawaban yang tepat adalah kata yang pernah di ucapkan  oleh Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, H. Mahbub Djunaidi beliau mengatakan “Manusia yang tidak berpolitik itu adalah binatang dan bintang yang berpolitik itu manusia”.

Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang wartawan senior dari media harian Kompas, M. Bakir atau cak Bakir beliau mengatakan Mbah Moen merupakan orang yang paling konsisten dengan partai politiknya karna saat orang-orang NU berlomba-lomba masuk PKB beliau tetap konsisten di PPP alas an nya bahwa “jika saya ke PKB, saya sangat bisa tapi kalau saya ke PKB siapa yang mengawal dsini karna di partai ini tidak semua berfikir untuk kemaslahatan umat”.

Sorot matanya masih sangat tajam, pendengaran nya masih sangat jelas dan sangat kharismatik dari seorang Mbah Maimoen Zubair dan yang lebih penting beliau sangat konsisten mencintai Pancasila yang di aplikasikan dalam kehidupan nya. Hal, ini tidak mengherankan karna beliau merupakan ulama sepuh NU yang sudah menganggap Pancasila tidak lagi di pertentangkan. Bahkan menurut pengakuan santrinya di rumah beliau itu ada gambar Pancasila dan foto presiden dan wakilnya.

Hal yang membuat penulis yakin bahwa beliau sangat nasionalis adalah ketika melihat semua ceramah beliau hamper semua akan di kaitkan dengan argument pendiri NU yang mengatakan Hubbul Wathon Minal Iman. Beliau sangat setia dalam mengawal NKRI. Selain itu guyon atau cek cok beliau dalam narasi kebangsaan saat beliau mengganti kepanjangan PBNU yang biasa di kenal dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang di ganti dengan Pancasila, Bhikena Tunggal Ika, NKRI, Undang-undang 1945.

Dalam tubuh NU beliau berpesan bahwa Indonesia masih berdiri tegak karna ada ormas seperti NU yang masih sangat konsisten melawan paham yang berusaha merongrong kemajemukan negeri yang di bangun atas darah pahlawan yang telah mendahului kita. Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Chasbulla, Mbah Bisri Samsuri dan lain sebagai nya merupakan ulama-ulama Khartismatik yang menyejukkan.

Inilah yang diterapkan oleh Almarhum waliyullah Mbah Moen bahwa islam itu bukan rahmatan lil muslimin tapi rahmatan lil alamin. Selain itu, beliau selalu menyampaikan bahwa agama itu tidak perlu di benturkan dengan kebanggsaan tapi jadikan agama sebagai pilar untuk memajukan bangsa dan Negara kita yang tercinta ini.

Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq...

Credit by : Alwin Mahyudin
Kendari, 11 Agustus 2019.

Sumber Gambar Ilustrasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...