NKRI tidak terlepas dari perjuangan para kyai dan santri serta para pemuda. Dalam perjuangan tersebut, untuk merebut kemerdekakan negara kesatuan ini ada berbagai macam tantangan serta pengorbanan yang dilakukan oleh para pejuang bangsa ini.
Dimulai dengan terbentuknya ormas keagamaan, ormas pemuda, ormas pelajar, hingga ormas nasionalisme, diantaranya sarekat dagang islam 1905, muhammadiyah 1912, budi Utomo 1908, persis 1923, nahdatul ulama 1926, dll.
Dalam perjuangan kemerdekaan ini bukan saja kaum muslimin yang berperan aktif didalamnya tetapi juga kaum non muslim lainnya, sehingga dalam perumusan ideologi negara kesatuan ini, terjadi berbagai macam perbedaan pendapat.
Ada yang ingin ideologi negara ini sesuai dengan syariat islam/khilafah dengan alasan bahwa negara kita ini mayoritas muslim dan ada juga yg ingin ideologi pancasila, dengan alasan bahwa negara kita ini negara yang berpenduduk beranekaragam suku, agama, ras, etnis, dan budaya.
Ketika perdebatan yang sangat panjang berlalu yang dilakukan oleh para pendiri bangsa ini, maka terjadi keputusan akan ideologi negara ini yaitu pancasila, dengan lambang burung garuda dengan semboyan bhineka tunggal ika, yang kemudian ideologi inilah yang mempersatukan bangsa ini sehingga dapat berdiri kokoh dengan keperkasaannya.
(Baca juga: Pancasila dan Fenomena Anti-Pluralitas Era Milenial.).
Tetapi ada saja pihak yang ingin memecah belah bangsa ini dan ada berbagai macam organisasi yang ingin merongrong pancasila, tidak lain dan tidak bukan yaitu organisasi islam yang berpotensi radikal atau dapat dikatakan islam garis keras, yang minim akan pemahaman tentang nasionalisme dan keragaman serta keagamaan.
kemudian hal itulah yang menjadi tantangan besar bagi bangsa yang besar ini, untuk merawat serta mempertankan jiwa nasionalisme yang penuh dengan warna perbedaan, namun pemaparan- pemaparan potongan dalil yg di keluarkan dari mulut para pembenci kebhinekaan seolah olah mendiskriminasi org-org yang tidak sesuai warna identitas kepercayaannya dan menghujat pancasila sebagai ideologi negara yang tak bermakna apa-apa.
betul yang di katakan sang proklamator yaitu Soekarno sang pendiri bangsa yang mengatakan bahwa "melawan penjajah lebih muda dari pada melawan bangsa sendiri. pernyataan tersebut memang benar dan terbukti hari ini apa yang di katakan sang proklamator NKRI. Namun kemudian timbul pertanyaan apakah mereka amnesia atau pura pura amnesia akan perjuangan para pendiri bangsa ataukah memang kelompok tersebut buta akan sejarah...?
(Baca juga: PANCASILA or KHILAFAH ? ).
Untuk memahami semua itu "SOEKARNO" pernah berkata Jangan Sekali kali Melupakan Sejarah (jas merah), disini soekarno mengajarkan kita bahwa sejarah itu sangat penting, namun belajar sejarah itu bukan hanya sekedar bernostalgia akan tetapi kita harus menakar langkah-langkah dari sejarah itu untuk mengambil pelajaran.
Yang terpenting dari perjalanan panjang bangsa ini adalah harusnya mengaktualisasikan nilai-nilai pancasila ataupun kebhinekaan. Karena inilah inti pokok untuk menghindarkan bangsa ini dari perpecahan. Saya yakin bahwa, ketika semua negara menganut ideologi pancasila mungkin tidak akan ada lagi konflik dan perpecahan. Yang terjadi, namun itu mustahil adanya.
yang jelas, untuk aktualisasikan nilai-nilai pancasila tersebut, kita mulai dari hal-hal yang sederhana dulu seperti misalnya ketika kita sebagai mahasiswa yang ber organisasi kita harus menghargai organisasi yang lain agar kerukunan antar organisasi itu tetap berjalan dengan baik dan harmonis.
(Baca juga: PBNU Sudah Syar'i, Lalu Mengapa Harus NKRI Ber(label)Syariah...?).
Aktualisasi nilai pancasila itu sebetulnya bentuk kecintaan kita terhadap tanah air indonesia,, bahkan KH. Wahab Chasbullah sebagai tokoh NU pun mengatakan bahwa cinta tanah air itu sebagian dari pada iman (hubbul wathon minal iman).
Disini saya teringat tokoh nasionalisme dari india, yaitu Mahatma Gandhi beliau pernah berkata bahwa,,l "my nasionalism is humanity". Nah, disini kita melihat bahwa nasionalisme itu di dasari dari kemanusiaan, serta adapun kutipan dari mantan presiden libya (Muammar Khadafi), bahwa bangsa yang hancur nasionalismenya adalah sasaran empuk untuk di rusak bangsa lain. Hal tersebut membuat saya berfikir bahwa untuk memperkuat nasionalisme suatu bangsa agar tidak rusak yang pertama yang harus di kokohkan adalah ke bhinekaannya.
Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq...
Credit by: Niwil.
August 17, 2019.
Palopo.
Sumber Referensi:
- Kyai dan Santri.
- Negara paripurna : historisitas, rasionalitas, dan aktualitas pancasila.


Komentar
Posting Komentar