Mungkin diantara kita, ada yang sering dan biasa mendengar kata ISLAM NUSANTARA, bahkan mungkin ada yang baru pertama kali mendengarnya. Betulkah islam nusantara itu adalah aliran baru? ataukah islam Nusantara itu adalah aliran yang sesat?
Memang, wacana yang berkembang saat ini adalah tidak lepas dari seputaran islam nusantara. Disisi lain, ada yang konfrontatif dan sisi lain pula, ada yang akomodatif. Baik itu dari kalangan ulama, mahasiswa, pelajar, dan bahkan sebahagian orang-orang luar yang terlibat dalam mendiskusikan persoalan tersebut. Tapi, apakah persoalan ISLAM NUSANTARA hanya membaca sebatas literal tanpa adanya proses membaca kritis langsung membuat sebuah pernyataan bahwa Islam Nusantara itu adalah sesat dan menyimpang dari Ajaran Nabi Muhammad SAW ?.
Disini, saya akan menguraikan 3 proses islam nusantara. Pertama, Islam li nusantara; Kedua, Islam fi nusantara; dan yang ketiga, islam min nusantara. Disini saya akan mencoba menjelaskan dari ketiga pernyataan ini
Pertama, Islam li nusantara artinya adalah islam untuk nusantara. Jadi, islam ini ibarat sebuah sungai. Di Timur Tengah atau Jazirah adalah mata airnya, ia pun kemudian mengalir mengikuti lekukan-lekukan sungai hingga memasuki berbagai tempat-tempat. Seperti itulah islam yang kemudian datang dari timur tengah, kemudian masuk ke berbagai negara dan akhirnya sampai di nusantara yang dibawah oleh para saudagar dan para da’i pada abad ke 7 atau 13, tepatnya di selat malaka.
Kedua, Islam fi nusantara artinya adalah islam yang ada di nusantara. Setelah islam masuk ke indonesia, ternyata para penyebar-penyebar agama ini tidak dengan mudah menghilangkan tradisi-tradisi yang ada dibumi nusantara. Bagaimana ketika kita membaca literatur sejarah tentang walisongo, bahwa justru walisongo itu mengakulturasikan antara agama dan budaya. Apakah itu suatu bentuk kesesatan yang dilakukan walisongo? Sudah tentu tidak.
Tentu sudah menjadi pertimbangan para penyebar penyebar islam di pulau jawa atau nusantara pada saat itu yang masih kental dengan tradisi-tradisi lokal bahkan sampai sekarang. Makanya kemudian para wali ini secara perlahan merubah tradisi kebiasaan masyarakat nusantara pada saat itu dengan menyisipkan nilai-nilai islam kedalam tradisi dan kebiasaan tersebut. Bahkan kata islam Nusantara itu sudah tertulis pada masa SUNAN GIRI yang disebut dengan “Din Arab Jawi “ atau ISLAM NUSANTARA .
Ketiga, islam min nusantara artinya adalah islam dari nusaantara atau indonesia. Setelah melalui mata air, barulah kemudian memasuki daerah nusantara, setelah itu kemudian keluar dengan menyebarkan islam wasathiyah (moderat) sebagai kiblat islam di seluruh dunia dan menjadi contoh. Bahwa islam yang ada di nusantara adalah islam yang memberikan kesejukan dan kedamaian.
Maka dari itu para ulama yang betul-betul paham persoalan ISLAM NUSANTARA, tdk mudah menjustifikasi bahwa itu adalah aliran Baru. Justru, kita yang harus tanya balik "kemana saja ente selama ini ? Kok baru dengar kata islam Nusantara, kemudian langsung menjustifikasi bahwa ISLAM NUSANTARA itu sesat, pemahaman keliru, sementara Sunan giri sudah pernah menyebutnya sebagai Din Arab Jawi ?
Almuhaafadsatu 'alal qodiimis sholih wal akhdsu bil jadiidil ashlah...
Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq...
Credit by: Ayyink 'dakhiri' Salim.
Palopo-Agustus 09, 2019.
Sumber Gambar Ilustrasi

Komentar
Posting Komentar