Langsung ke konten utama

INTERNALISASI ETIKA PESANTREN

Islam nusantara, tidak serta merta hadir begitu saja sebagaimana yang disangkakan sebagian orang masa kini. Melainkan, sudah ada sejak zaman jahiliyah. Adanya proses akulturasi antara agama dan budaya yang berhasil disatukan dan diaktualisasikan dalam tiap langkah meniti masa. Sepatutnya, kita mengetahui bahwa, ada lagi hal-hal penting yang menjadi pijakan sehingga islam nusantara, masih tetap jaya hingga kini yaitu generasi beretika dalam lingkungan pesantren.

Pesantren merupakan tempat pemuda-pemudi dahulu hingga kini sebagai tempat menimba ilmu. Pada dasarnya, Pesantren bukan hanya mengajarkan tentang nilai-nilai keislaman. Tetapi juga mengajarkan tentang bagaimana seseorang yang muda, untuk tunduk patuh (hurmat atau Ta'dzim) terhadap gurunya, terkhusus dalam berkelakuan jujur, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia.

Etika sangat penting ditanamkan pada setiap pribadi manusia, karena merupakan akar penunjang peradaban bangsa, khususnya umat muslim. Nah, untuk lebih jelas terkait maksud dari generasi beretika dalam lingkungan pesantren, langsung saja kita akan ulas secara rinci apa-apa saja yang tercantum didalam etika pesantren.

(Baca juga : Pesantren Sebagai Kiblat Pendidikan ).

Dalam lingkungan pesantren, ada empat pilar yang harus kita ketahui dan rawat bersama. Keempat pilar tersebutlah yang akan membentuk generasi-generasi harapan umat dan bangsa, dalam rangka mempertahankan dan mengeksistensikan keberadaan islam nusantara sendiri.

Pilar pertama, KYAI (guru).

Mengapa kyai merupakan pilar atau pijakan untuk para generasi beretika, karena kyai merupakan tokoh sentral dalam pesantren. Merekalah sebagai pengasuh, pemimpin, sekaligus pemegang mutlak biroksasi dunia pesantren. Sebutan kiai merupakan gelar yang diberikan oleh masyarakat yang sudah menganggap dan mempercayai bahwa, ia adalah utusan Allah SWT. yang akan memberikan penerang bagi umat manusia dimuka bumi karena kefasihannya dalam mengetahui ajaran ajaran agama islam yang sudah tidak diragukan lagi.

Contoh salah satu kyai yang juga merupakan tokoh terbesar dalam serajah peradaban islam nusantara yang menjadi primadona kalangan mudah, yaitu K.H Hasyim Asy'ari. Pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur. Beliau juga termasuk salahsatu pahlawan Nasional.

Pilar kedua, Pondok Pesantren.

KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) mengutarakan bahwa, pondok merupakan tempat para generasi tinggal belajar dan mengabdikan dirinya untuk meniti jalan yang penuh dengan kemaslahatan. Pondok merupakan salahsatu pilar terpenting pada generasi beretika. Karena merupakan wadah untuk memperdalam pendidikan agama, sekaligus pusat pemberdayaan kearifan lokal seperti para Walisongo, yang kala itu berlomba-lomba dalam memgembangkan jumlah pesantren guna menarik masyarakat yang sulit mengenal islam kala itu.

Pilar ketiga , Santri.

Secara etimologi, kata "santri" berasal dari kata "cantrik" (bahasa sansekerta/Jawa) yang berarti selalu mengikuti guru (dawuh). Didalam lingkungan pesantren, Kyai tidak mungkin ada jikalau santrinya tidak ada. Santri merupakan pilar terpenting kedua setelah kyai, karena merekalah yang akan menerima pokok ajaran dalam pesantren. Kemudian, mereka pulalah yang akan aktualisasikan dan kumandangkan nantinya ke seluruh penjuru dunia berdasarkan apa-apa yang telah didapatkannya.

Pilar keempat, Kurikulum atau Metode Pengajaran.

Tujuan pendidikan pesantren adalah penanaman nilai-nilai luhur dan etika yang terpuji, juga mental keras dan mandiri. Kurikulum sangat penting dalam dunia pesantren. Selain sebagai roda pengatur, juga sebagai kunci para santri menerima pelajaran dengan cara sistematis.

(Baca juga : Sayyidah Aisyah ra, Inspirator perempuan masa kini. )

Seperti yang diutarakan KH. Abdurahman Wahid , pola umum kurikulum meliputi dua aspek utama dalam kehidupan pesantren :

Pertama, kurikulum pembelajaran berlangsung dalam sebuah struktur, metode, bahkan literatul tradisioanal. Baik dalam pendidikan nonformal seperti halaqah maupun formal seperti madrasah. Kedua, kurikulum pendidikan selalu memelihara subkultural berlandaskan nilai-nilai ukhrawi yang dimplementasikan dalam bentuk ketundukan mutlak kepada ulama.

Berdasarkan kedua penjabaran terkait kurikulum tadi, sangat jelas pentingnya kurikulum dalam dunia pesantren. Selain kedua poin tadi, adapula urgensi lain dari adanya kurikulum, yaitu pesantren tidak akan tergesa-gesa dalam bertransformasi dalam proses pembelajaran.

Sebagaimana ulasan keempat pilar diatas, sudah sangat jelas bahwa bukan hanya karena adanya akulturasi antara budaya dan agama, tetapi juga karena adanya etika yang terawat sejak dulu yang sampai sekarang ini masih tertanam dalam jiwa generasi-generasi yang menjunjung etika dengan berpegang teguh pada ajaran Ahlus Sunnah Waljamaah sebagai islam rahmatan lil alamin beriringan dengan kebudayaan lokal, itulah islam nusantara.

Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq...

Credit by : Ummul Haira Asmar.
Palopo - 01 Agustus 2019.

Referensi :
(Buku) Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara - Aguk Irawan M.N.

Sumber gambar ilustrasi :
(Akar Sejarah etika pesantren di nusantara)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...