Langsung ke konten utama

Ibadah Qurban dan Politik Simbolik.


Diketahui bersama bahwa, kaum muslimin tinggal berapa hari lagi akan menyambut Hari Raya Suci Idhul Adha (10 Dzulhijjah). Tentunya, dikalangan mayoritas agama islam akan mengadakan atau menjalankan ibadah Qurban. Hal itu untuk memperingati kepatuhan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah untuk menyembelih ismail, putranya. Sehingga lahir kerelaan ismail untuk dikorbankan dalam kisah tersebut.

Alquran (red. Islam) menekankan aspek ketaatan mereka (Ibrahim AS, Ismail AS, dan Hajar) dalam berserah diri ke pada tuhan. Secara kasat mata agama, bahwa berkorban adalah pengejawantahan diri kepada tuhan dengan cara menyumbangkan sebagian harta kita berupa hewan ternak, tanpa ada unsur memanfaatkan momen atau hal serupa lainnya.

Apakah benar realitas umat islam berbondong-berbondong untuk berkorban, menyumbangkan sedikit hartanya berupa hewan ternak? Iya, inilah bulan umat islam berbondong-berbondong untuk berkorban. Maka, berangkat dari realitas sosial umat islam saat ini, tidak tutup kemungkinan sebagian umat islam menganggap berkorban hanyalah sebuah titik simbolik (siasat) untuk kepentingan mereka (red.politisasi).

Olehnya, mereka menganggap bahwa, berkorban adalah sebuah faham teologi (ortodoks) yang dimana manusia dituntun untuk tunduk pada hukum tuhan dan dipandang atas dasar dimensi keimanan? Keadaan semacam inilah yang mana, mereka mengambil sebuah peran simbolik hanya demi kepentingan pribadi meraka saja.

Dari hal tersebut diatas, maka lahirlah antusias masyarakat bahwa, orang yang berkorban di tempat mereka adalah orang yang taat dan selalu menjalankan perintah-Nya dengan penuh keikhlasan tanpa ada unsur riya, dan sebagai bentuk ibadah spritual nya kepada sang khalik, dan akhirnya saat moment PILKADES dialah nomor satu antusias masyarakat untuk memilihnya. Ini hanyalah satu contoh lapangan.

Tidak bisa dipungkiri, memang background agama dalam kepentingan kekuasaan adalah alat hegemoni yang dimainkan oleh segerombolan badut dalam memahami deretan ayat-ayat tuhan dalam teks Al-Quran..

Mari kita menelaah/menelusuri masalah berkorban dari berapa aspek. Baik itu aspek sosial, politik dan ekonomi.

Berkorban dari segi aspek sosial adalah cinta yang mengalir atas dasar keikhlasan dan kerinduan kita terhadap Nabi Ibrahim yang mengajarkan ilmu pengetahuan berupa keikhlasan tanpa syarat. Itulah pengabdian Nabi Ibrahim kepada sang khaliknya dengan penuh semangat hingga mengalir kebaikan yang tumbuh riang dan gembira penuh harmoni berkhidmat dengan penuh cinta.

Inilah sebuah peran sosial yang lahir dan menganggap agama adalah manifestasi tuhan untuk menyatukan dalam satu bingkai, bahwa kita mahluk ciptaan tuhan tanpa ada embel-embel sebagi alat untuk menciptakan kekuasaan diatas kepentingan. Namun, miris umat islam hari ini, jalan sosial dalam berkorban nya hanya sebatas simbolik (siasat) untuk pribadi mereka.

Terlepas dari itu, peran ekonomi adalah yang menganggap berkorban itu adalah wajib. Sehingga, sebagian masyarakat menghalalkan segala cara untuk meraih kepatuhan mereka kepada tuhan hanya dikarenakan tidak mampu dalam materi berupa uang (materi). Doktrin semacam inilah dakwah segerombolan badut yang hanya faham teks alquran secara fundamentalis menjalar/menyebar dikalangan masyarakat awam yang fanatis buta soal agama.

Seharusnya dalam berkorban akan ada lahir relasi interpersonal kontekstual yang menguatkan kita akan tetap integritas moral dalam soal habluminannas. Karena pada dasarnya, berkorban bukan soalnya siapa yang paling kaya, maka dia yang lebih mulia. Akan tetapi, berkorban adalah:

1. Salimul aqidah (bersihkan akidah) kita hamba allah dituntut untuk memiliki aqidah yang bersih akan mempersembahkan semua yang ada dalam dirinya (potensinya) akan dikerahkan dalam rangka untuk pengabdian kepada tuhan semata.
2. Sahilul ibadah (benar- benar ibadah) berkorban adalah sebuah kebiasaan kita dalam jangka satu tahun dan itu adalah sebuah aktivitas sebagi umat islam khususnya.
3. Matinul khuluq artinya dikukuhkan akhlaknya.
4. Qawwiyyul jismi (kuatkan jasmaninya) ketika kita selalu menyumbangkan sebagian harta kita untuk berkorban maka jasmani kita akan tetap sehat dan bugar.
5. Qaddirun alal qasbi (mampu berusaha sendiri).
6. Munadzadzamun fi syu'unihi (teratur dalam semua urusan).
7. Nafiun lighairihi (bermanfaat bagi orang lain).

Itulah sekilas informasi tentang betapa pentingnya kita berkorban tanpa ada unsur simbolik demi meraih sebuah kepentingan kekuasaan.

Berkorban juga tidak menuntut kita untuk wajib menyumbangkan sebagian harta kita berupa hewan ternak yang besar, akan tetapi sedang-sedang (red. Semampunya) itu sudah cukup. Yang utama adalah niat kita tidak pernah tertanam dalam pribadi kita bahwa saya berkorban untuk meraih kekuasaan akan niat berkorban mencari ridho allah.

Ada pepatah arab menyatakan bahwa, berkorban itu ibaratkan sebuah air yang terus mengalir tanpa henti itu rejeki kita, bahkan guru besar kita Prof.Dr.Kh. Nasaruddin Umar, Ma. mengatakan bahwa, berkorban itu adalah jalan suci setiap umat manusia dalam berinteraksi sebagai mahluk sosial di muka bumi, kuatkan spiritualitas kepada sang khalik dan kesalehan sosial.

Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq...


Credit by: Ayub 'Jibril' Sadega.
Palopo 10 Agustus 2019.

Sumber gambar ilustrasi

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...