Langsung ke konten utama

ASWAJA, Pesantren, dan Eksistensinya

Dalam menjejaki kehidupan kedepannya, para kader ASWAJA An-nahdliyah sekurang-kurangnya, mampu memahami dan mengamalkan tiga bidang. Bidang-bidang yang dimaksudkan ialah Aqidah, fiqih, dan tasawuf. Hal tersebut sebagai bekal diri, serta untuk turut membawa perubahan pada peradaban dunia. Tidak hanya itu, para kader ASWAJA An-Nahdliyah juga sepatutnya membekali diri dengan tafsir hadist dan pemikiran islam dan lainnya.

Mengenai hal diatas, itu akan sulit tercapai bila para kader ASWAJA An-Nadliyah jauh dari para Ulama. Karena pada dasarnya, kader ASWAJA An-Nahdliyah yang merupakan golongan mayoritas ummat (As-sawadu al-a'dham) dan mereka adalah generasi yang terhubung sanad pemikirannya (genealogi) hingga ke Tabi'in, Khulafa Al- Rosyidin, bahkan Nabi Muhammad SAW.

Olehnya para Kader ASWAJA An-Nahdliyah ini merujuk dan mengikuti jejak pemikiran serta perjuangan KH. Abdul wahid hasyim, KH. Abdul Rahman Wahid, KH. Ahmad Shidiq, KH. Ali ma'shun, KH. MA. Sahal Mahfudh, KH. Mustofa Bisyri dan KH. Sa'id Aqil Siradj dan para Kyai serta sesepuh lainnya. Kesemuanya ini sebagai sumber otoritatif dan adalah langkah terbaik untuk mengembangkan Ahlus Sunnah Wal Jamaah secara dinamis dan produktif.

Semangat membaca dari berbagai sumber pengetahuan, baik barat maupun timur, mengapresiasi pemikiran dan budaya lokal, menulis buku dan kitab, berjuang mencerdaskan umat dan mensejahterakan rakyat dan aktif melakukan kaderisasi adalah sederetan kunci untuk mengembangkan ASWAJA An-Nahdliyah.

Kader ASWAJA An-Nahdliyah harus mampu menepis tuduhan sepihak yang dilontarkan kelompok lain yang dikatakan bahwa, banyak praktek budaya yang dilakukan warga NU adalah termasuk bid'ah sesat yang ancamanya masuk neraka.

(Baca juga: Islam vs Tradisi (Isme-isme).)

Agar semakin shalih likulli zaman wa makan, serta aplikabel disetiap masa  dan ruang sekaligus menjadi sentral gerakan dalam menjaga stabilitas sosial ke agamaan yg rahmatan lil alamin, maka ASWAJA harus di posisikan sebagai metode berpikir dan bertindak yg berarti menjadi alat (tools) untuk mencari, menemukan, dan menyelesaikan berbagi permasalahan sosial.

Dalam posisi tersebut, ASWAJA sebagai alat, maka sikap proaktif untuk mencari penyelesaian menjadi lebih bersemangat, guna melahirkan pikiran-pikiran yang kreatif dan orisinil dalam hal ini pendapat para ulama terdahulu tetap ditempatkan dalam kerangka lintas komparatif namun tidak akan sampai harus menjadi belenggu pemikiran yang dapat mematikan atau membatasi kreativitas.                   

Pesantren adalah lembaga lokal yang mengajarkan praktik-praktik dan kepercayaan-kepercayaan islam dalam nuansa ASWAJA. Pesantren merupakan pengembangan sistem halaqah yang didalamnya harus mondok dan hidup dalam zawiyah (kamar penyepian) syaikhnya (guru tarekat).

(Baca juga: Pesantren Sebagai Kiblat Pendidikan.)

Jika berbicara tentang kekuatan pesantren, maka dapat diurai bahwa kekuatan tersebut menyembul dari figur kyai sebagai titik sentral komunitas pesantren. Kyai adalah cendekiawan agama (ulama) yang karena islam tidak memiliki sistem kependekatan, menjadi pemimpin-pemimpin islam islam di NUsantara.

Menurut KH. Said Aqil Siradj, pesantren dengan kyainya yang memilih melakukan gerakan, cukup unik tersebut sebagai upaya menghindarkan diri dari interaksi secara langsung dengan kantong-kantong kekuatan budaya lain. Artinya, pesantren adalah basis budaya sekaligus agama.

Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq...
Credit by: Lucky Zulkifli 
16 Agustus 2019.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...