Langsung ke konten utama

Islam tradisional dalam pusaran Islam transnasional


Indonesia terkenal dengan keberagaman agama, budaya, ras, suku, dan, banyak lagi lainnya. Sehingga dapat dipahami bersama bahwa, agama islam bukan satu-satunya. Akan tetapi, beberapa agama yang kemudian disahkan oleh negara sebagai agama Nasional. Diantaranya Hindu, Budha, Nasrani, Konghucu, dan Katholik. Tak lupa pula, masih banyak lagi "kepercayaan" masyarakat lokal yang belum atau tidak diakui atau disahkan oleh negara sebagai agama atau kepercayaan resmi.

Sebagaimana dijelaskan dalam sejarah masuknya islam di Nusantara, menurut sebagian sejarawan, ada yang mengatakan pada abad ke-7, ke-13, ke-17, dan lain-lain. Terlepas dari hal itu, dalam catatan sejarah, juga dikatakan bahwa proses islamisasi yang dibawa oleh kelompok perahu dan para Wali yang berprofesi sebagai saudagar atau pedagang yang kemudian dimassifkan oleh para Wali, atau lebih tepatnya Walisongo.

Proses islamisasi dari ke sembilan Wali inilah yang mempunyai gaya atau metode tersendiri dalam menyebarkan islam. Seperti dalam sejarah masuknya islam di Nusantara, yang sebelumnya sudah banyak agama dan kepercayaan lokal yang dipegang masyarakat pada saat itu seperti Hindu, Budha, dan ada juga kepercayaan agama leluhur seperti kepercayaan kapitayang.

Metode Walisongo menyebarkan islam tidak lepas dari peran budaya yang ada di NUsantara. Karena jauh sebelum islam masuk NUsantara, tradisi atau budaya sangat kental dalam kehidupan masyarakat nusantara. Sehingga para walisongo melakukan pendekatan melalui budaya dengan prinsip tidak membumi hanguskan budaya lokal.
Malah, budaya itulah yang kemudian dijadikan sebagai salah satu sarana untuk menyebar luaskan islam di NUsantara.

Nilai-nilai luhur dari proses islamisasi ke sembilan Wali inilah yang pada akhirnya diadopsi masyarakat tradisional dengan mendengungkan ciri-ciri islam di indonesia, atau dengan bahasa familiarnya disebut islam NUsantara.

Islam NUsantara yang menjadi karakteristik islam di Indonesia, acap kali didakwahkan oleh organisasi kemasyarakatan. Sebut saja, ormas NAHDLATUL ULAMA  yang berorientasi sebagai islam tradisionalis yang fokus bergerak pada dataran kultur, budaya, dan kearifan lokal.

Prinsip islam tradisioalis ini yang mempunyai kesamaan misi atau melanjutkan dakwah dari ke sembilan Walisingo dengan motode mempertahankan budaya lama yang baik dan mengambil budaya baru yang lebih baik. Atau yang biasa disebut islam NUsantara atau ciri khas islam yg ada di NUsantara.

Seperti kondisi negara mutakhir ini, setelah runtuhnya orde baru menuju reformasi membuat masyarakat indonesia mendapatkan angin segar dengan kebebasan berpendapat (demokrasi). Disisi lain, masyarakat indonesia mendapatkan angin sengar dengan kebebasannya berserikat, disisi lain juga embrio menculnya gerakan-gerakan islam transnasional yang sudah lama terbelenggu oleh sikap otoriter penguasa. Sehingga, islam transnasional ini yang kemudian menjamur di Indonesian dengan berbagai macam varian.

Sudah berbagai macam kelompok islam puritan yang mencoba untuk membumi hanguskan tradisi lokal yang dipelihara oleh kelompok islam tradisionalis yang setia mempertahankan budaya. Bahkan pada tahap selanjutnya, kelompok ini memberanikan diri menyuarakan daulah islamiyah atau khilafah islamiyah dengan tujuan mengubah sistem negara yang bernafaskan pancasila dengan sistem syariat yang ber"label" islam.

Munculnya tokoh pembaharu di timur tengah dengan misi pemurnian islam, turut andil dalam hal ini. Sebut saja, Muhammad bin Abdul Wahab pendiri paham Wahabi , Hasan Al Banna yang mendirikan Ikhwanul Muslimin dan Taqiyyuddin Annabhani pendiri Hisbuttahrir, dan lain-lain.

Pemikiran Ketiga tokoh ini yang memunculkan gerakan pemurnian islam di timur tengah sehingga masyarakat indonesia yang belajar di timur tengah kemudian mengadopsi pemikiran itu dan mendirikan di indonesia sebagai organisasi ke islaman. Ada yang bergerak melalui pendidikan, instansi, dan juga bergerak mengisi masjid-masjid dangan dalih pemurnian islam di indonesia secara kaffah.

Islam tradisional merupakan salah satu corak paham ke-islaman yang paling populer dan banyak dianut oleh masyarakat islam Indonesia. Paham ke-islaman yang sering dikonfrontir dengan islam modernis ini sering dituduh sebagai penghambat kemajuan dan membawa kemunduran umat islam.

Tradisionalisme sering kali dipertentangkan dengan istilah modern dan medernisme, kelompok pertama yg diasumsikan sebagai kelompok yg tertinggal, tidak terdidik, statis dan kolot, sedang yang terakhir diasumsikan sebagai kelompok yang berpikiran maju dan dinamis. Namun, benarkah demikian ? Atau itu hanya sebatas peyorasi ?

Beberapa ciri khas yang melekat pada kelompok tradisional.
Pertama: pemikiran-pemikiran keislamannya masih terikat kuat dengan ulama-ulama sebelumnya yang hidup antara abad ke-7 hingga abad ke-17 Masehi. Baik itu dalam hal tasawuf, hadist, fiqhi, tafsir, maupun teologi.

Kedua: pendukung utamanya adalah para kiyai dan tokoh-tokoh lokal yang berbasis pendidikan pesantren,
Dan yang terakhir cirinya adalah secara ideologis mempunyai keterikatan kepada paham Ahlus-Sunnah Waljamaah (ASWAJA).

Islam tradisionalis juga menggaungkan islam NUsantara atau karakteristik islam yang ada di NUsantara. Pada saat-saat mutakhir ini, mendapatkan perhatian hangat oleh islam transnasional atau islam puritan. Sehingga, berbagai macam dakwah soal islam NUsantara yang didakwahkan kelompok tradisionalis, disalah artikan atau disalahkan dalam bentuk ktitikan. contohnya takhayyul, bid'ah cufarat (TBC).

Menurutnya bahwa, islam nusantara ini sesat, ritualnya tidak dikerjakan  dijaman Nabi Muhammad saw. yang ada hanya islam rahmatan lilalamin (islam sebagai rahmat seluruh alam). Hal-hal inilah yg nantinya menjadi embrio disintegrasi islam di indonesia.

Respon dari NAHDLATUL ULAMA yang notabenenya disebut sebagai ormas muslim tradisionalis, meletakkan agama dan budaya sebagai hal yang tak terpisahkan. Sehingga, prinsip itulah yang kemudian diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam dakwahnya, Nahdlatul Ulama mempunyai corak pemikiran dengan menyampaikan islam wasatiyah atau islam mederat yang menerima dan bahkan menjadi ormas pertama yang akui Pancasila sebagai ideologi Negara. Sebagian peneliti mengatakan bahwa salah satu kunci sehingga islam masih bertahan di Indonesia adalah Islam moderat.

Islam wasathiyah atau islam moderat menurut paparan beberapan kiyai, identik dengan kaum Muslimin yang disebut sebagai ummatan washatan dalam Al-Qur'an surat Al Baqarah: 143. Umat sepertl inilah yang dapat dan mampu menjadi saksi kebenaran bagi manusia lain.

Manifestasi Islam wasatihyah di Indonesia lanjutan terwujud dengan Islam Nusantara yang identik dengan Nahdlatul Ulama dan Islam berkemajuannya Muhammadiyah. Islam wasathiyah memiliki prinsip, namun tetap menghargai perbedaan. Tidak debat kusir dan adu otot dengan dasar yang belum jelas kebenarannya serta tidak menganggap prinsipnyalah yang paling benar.

"Ummatan wasathan adalah umat yang selaIu menjaga keseimbangan, tidak terjerumus ke ekstremisme kiri atau kanan, yang dapat mendorong kepada radikalisme dan tindakan kekerasan".


Walloohul muwaafieq ilaa aqwaamith thoriq...


Palopo, 15 juli 2019
ALMUDZILL WAL SEVERUS.

Referensi :
- Atlas Walisongo (K.H.Ng. Agus Sunyoto).
- Islam Post-Tradisionalisme
https://www.google.com/search?q=islam+tradisional+nusantara&safe (gambar).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

Perempuan sebagai Hamba Allah Swt

  Perempuan sebagai Hamba Allah Swt penulis: Nur Azima “cara pandang yang membeda-bedakan status gender (jenis kelamin), ras, suku, agama dan bangsa bukanlah cara pandang Tuhan melainkan cara pandang manusia” _KH. Husein Muhammad_ Islam sangat memperhatikan kondisi dan kedudukan perempuan. Islam  melakukan transformasi sosial atas status, posisi, dan peran perempuan, baik dalam ruang domestik maupun publik dengan cara-cara yang mulia tanpa melewatI atau mempertentangkan batas yang menjadi koodrat bagi perempuan Sejarah  yang tidak terelakkan mengamini kita untuk melihat keagungan Allah Swt dalam menciptakan makhluknya dengan sebaik-baiknya. Diantara Allah itu maha maha ‘adil’, subtansi Al-Quran adalah cinta dan kasih sayang, dengan demikian substansi Al-Qur’an juga seluruhnya juga tergambarkan sebuah keadilan sebagai manifestasi cintanya, termasuk adil antara laki-laki dan perempuan.  Pada zaman ‘jahiliyah’ kondisi perempuan sangatlah tidak manusiawi, begitu banyak p...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...