Langsung ke konten utama

INTERKONEKSIVITAS ISLAM DAN BUDAYA

Perlu kita pahami bersama bahwa, agama (islam) dan budaya, merupakan dua hal yang berbeda, namun tidak bisa terpisahkan karena memang saling membutuhkan. Hal lain yang terpenting juga harus kita ketahui bahwa, budaya itu tidak selamanya baik dan tidak selamanya buruk, sementara islam hadir karena respon terhadap budaya yang buruk. 

Pertanyaannya, budaya yang bagaimana yang menjadi responnya ? sebenarnya yang menjadi objek vital respon islam di Arab pada saat itu, yakni tatanan sosial yang sangat rusak serta memprihatinkan. Ada beberapa kebiasaan-kebiasaan yang tidak sama sekali mempunyai nilai-nilai moral. Salah satu contohnya adalah ketika ada bayi perempuan yang lahir mereka menguburnya hidup-hidup karena mereka anggap bahwa anak perempuan adalah musibah, dan masih banyak lagi.  

Sedang budaya-budaya yang lain yang tidak melanggar nilai-nilai tersebut tetap di biarkan. Contohnya seperti musyawarah, memakai cadar; tetapi harus juga kita pahami konteks dari budaya tersebut. Jadi jangan menganggap bahwa, musyawarah dan cadar itu adalah syariat tetapi itu murni budaya bangsa arab. 

Perlu kita ketahui bersama bahwa, agama islam itu dinamis yang selalu sesuai setiap zaman dan setiap tempat; serta, terkadang agama islam sejalan dengan budaya dan terkadang juga bertolak belakang. Artinya bahwa, yang harus kita garisbawahi adalah, islam itu berbicara tentang aktualisasi nilai.

Maka dari itu, hadirnya NU sebagai manifestasi daripada islam nusantara dengan ber ideologikan Ahlussunnah wal Jama'ah, yang kemudian ideologi tersebut dijadikan sebagai manhaj al fikr dengan empat prinsip dasar diantaranya tawasut, tawazun, tasamuh, dan ta'adul. 

Itulah kemudian yang diakulturasikan antara islam dan budaya, demi mencari nilai-nilai humanis. Namun banyak juga pihak lain yang selalu beranggapan bahwa, tidak seharusnya agama tersebut dihubung-hubungkan dengan budaya. Sebab, agama itu produk dari Tuhan. Sedangkan, budaya itu merupakan produk manusia serta mereka juga berpendapat bahwa sesuatu yang tidak ada dalam alqur'an maupun hadits itu tidak boleh dilakukan dan itu adalah bid'ah dan orang yang melakukan bid'ah itu masuk neraka. 

Sedang kita ketahui bersama bahwa, bid'ah itu terbagi menjadi dua macam. Ada bid'ah hasanah (baik) dan ada bid'ah (dhalalah). Saya merasa bahwa, cara ber-islam seperti itu adalah mempersempit pemaknaan dari pada islam itu sendiri. Karena, berislam itu tidak seharusnya kita hanya terpaku pada Al-Qur'an dan Hadist saja. Tetapi kita juga harus ber ijtihad dan qiyas. 

Seperti yang telah saya katakan tadi diatas bahwa, islam nusantara hadir dengan mengakulturasikan agama dan budaya. Hal itulah salah satu bentuk aktualisasi nilai dari pada islam. Yang terpenting adalah, selama hal hal yang ada dalam nilai budaya tersebut tidak menyimpang dari nilai nilai agama, itu tidak masalah, kendatipun menyimpang. 

Disitulah fungsi daripada agama islam untuk menggantikan nilai nilai yang menyimpang tersebut dengan nilai-nilai yang tentunya sesuai dengan ajaran islam. Tidak bisa dinafikkan bahwa, berkembang dan menyebarnya ajaran islam di nusantara tersebut tidak terlepas dari peran budaya yang menjadi pijakan untuk berkeliling nusantara yang kemudian mengubah tatanan sosial nusantara, yang tadinya mepercayai anemisme dan dinamisme, kemudian terpesona dengan nilai nilai islam yang ramah, toleran, miderat, seimbang, dan adil. 

Sehingga cara berislam di nusantara tersebut sangat kental dangan kebudayaannya, seperti misalnya tahlilan, barasanji, maulidan, serta mabbaca-baca, yasinan, ziarah kubur dan lain-lain. Hal ini terjadi karena adanya konstruksi budaya. Kita lihat di nusantara, kebanyakan orang yang pergi sholat itu menggunakan songkok dan sarung, serta memakai baju kaos atupun kemeja. Nah, disisi lain islam yang ada di Arab menggunakan jubah. Artinya, yang dinilai adalah, subtansi dari islam tersebut, dan bukan cashingnya. 

Sebagaiamana yang dikatakan oleh Gusdur, bahwa ketika kita berbuat baik, orang tidak bertanya apa agamamu, apa sukumu. Disini kita melihat bahwa, setiap agama itu mengajarkan kebaikan dan tidak ada agama yang mengajarkan keburukan.

Sang proklamator Republik Indonesia, yaitu Soekarno, pernah Berkata bahwa, ketika ingin menjadi islam, jangan menjadi islam arab, ketika ingin msnjadi hindu atau budha jangan India, menjadi nasrani, jangan menjadi seperti Barat, karna kita ada di Indonesia, jadilah islam indonesia, hindu dan budha indonesia, nasrani indonesia. 

Lagi-lagi disini perlu kita pahami bahwa, budaya di Indonesia sangat beda dengan budaya yang ada di luar sana. Sebab indonesia kaya akan berbagai macam suku, ras, etnis, budaya, dan agama. 

Nah dengan dikoneksikannya antara budaya dan islam, akan menghasilkan islam yang moderat atau islam wasatiyah, dalam coretan sejarah saja kita lihat bahwa dengan datangnya para Walisongo untuk menyebarkan islam di indonesia, budayalah yang menjadi senjata ampuhnya untuk menyebarkan islam.

Gustavo guiterez pun sebagai tokoh teologi pembebasan amerika latin mengatakan bahwa, agama hadir sebagai aktualisai nilai. Bukan besifat menindas, dan tidak bersifat membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain. Juga, ketika kita melihat teori dari pada Plato dengan teori esensialisme metodologisnya bahwa, untuk mengetahui sesuatu kita harus tau apa realitasnya, apa esensinya, dan apa namanya serta apa definisinya.

Ketika teori ini kita sandingkan, untuk mengetahui islam saya kira cukup jelas, bahwa keberadaan islam hadir untuk memperbaiki tatanan sosial. Inti pokoknya pun sebagai Rahmatan lil Aalamiin bukan rahmata lil muslimin.

Berbicara definisi pun, islam adalah jalan keselamatan, Itulah islam. Nah untuk mewujudkan makna dari islam itu sendiri diperlukannya aktualisasi nilai. Nah, disitulah budaya menjadi pemeran penting untuk megaktualisasikan nilai-nilai islam tersebut.

Walloohul muwaafiq ilaa aqwaamith thoriq...
Credit by : NIWIL
Palopo - 01 Agustus 2019

Referensi :
1. Post tradisionalisme islam. (Rumaidi).
2. Menjadi kader PMII (ahmad hifni).
3. Atlas walisongo. (Agus Sunyoto).
4. Masyarakat terbuka dan musuh musuhnya. (Karl r. Popper).
5. Kajian teologi pembebasan. (Guspen).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...