Langsung ke konten utama

A + GAMA = Cinta Damai.

Akhir-akhir ini, kita acapkali diperhadapkan pada perbincangan persoalan agama. Mulai dari hal seputaran hijrah-hijrah, bahkan disisi lain menginginkan sebuah negara berbasis agama.

Timbul pertanyaan, sejauh mana kita memahami agama kita terhadap negara sendiri ? Kemudian, bagaimana islam memandang agama yang lain; dalam hal ini mengenai perbedaan ? karena hal ini dapat memancing keributan atau konflik ditengah-tengah umat beragama ketika negara itu memiliki penduduk yang beragam.

Indonesia boleh dikata, multy di segala bidang, baik dari segi agama, suku, ras, etnis, budaya, dan lain sebagainya. Bukankah kehadiran agama sebagai penengah ? Lantas jika terjadi perselisihan dan konflik, dimana letak eksistensi sebagai umat beragama ?

Telah kita pahami bersama bahwa, agama manapun tidak mengajarkan kepada para penganutnya tentang kekerasan (ekstremisme) bahkan islam sendiri tidak kita temui didalamnya. Islam sendiri mengajarkan tentang toleransi (menghargai sesama), ramah, dan cinta perdamaian.

Membicarakan kaitan antara islam dan ekstremisme atau radikalisme, bukan perkara mudah. Hal ini akan segera terlihat ketika kita di ajukan sebuah pertanyaan, apakah islam mengajarkan ekstremisme atau radikalisme ?

Agama, baik islam maupun agama-agama lainnya secara taken for guaranteed dipandang sebagai instrumen ilahiah yang pasti akan mengajarkan hal-hal yang baik. Untuk itu bagaimana mungkin kita bisa mengaitkan agama (islam) dengan ekstremisme yang didalamnya mengandung hal-hal yang tidak biasa dan sering dipandang secara pejoratif.

Dalam perspektif semacam itu, ekstremisme dan agama dapat dipastikan bertolak belakang dan bahkan akan saling bertentangan. Karena itulah, para pemikir dan pemeluk agama islam melakukan kampanye tandingan dengan menegaskan bahwa islam bukan agama kekerasan, tapi agama damai, kasih sayang, dan ramah yang menghargai toleransi dan menghormati pluralitas serta agama rahmah bagi sekalian alam semesta.

Islam tidak pernah menyerukan ekstremisme atau radikalisme, apalagi mendakwahkan terorisme.
Subjek ini juga telah sering dibahas dalam berbagai forum nasional, regional, dan internasional. Hal ini tidak lain karena pada kenyataannya, diberbagai bagian dunia, masih terjadi konflik, kekerasan, dan terorisme, dan perang atas nama agama.

Kenyataan yang terus berlanjut ini seolah memperkuat wajah agama yang terkesan ambigu, sehingga menimbulkan skeptisisme sebagian orang pada agama.

Pada satu pihak, ada wajah agama yang mengajarkan perdamaian, harmoni, dan hidup berdampingan diantara umat beragama yang berbeda. Inilah sebenarnya inti dan pokok ajaran agama. Ajaran agama seperti inilah yang dipegangi mayoritas umat beragama.

Bagian terbesar umat beragama adalah orang-orang pecinta damai, menjaga hubungan dirinya dengan tuhan (hablumminallah), dengan sesama manusia (hablummninnas) untuk kemaslahatan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Tetapi pada pihak lain ada wajah agama yang tampil sebagian kecil penganutnya sebagai wajah sangar yang menunjukkan ketidak-rukunan, tensi, konflik, dan bahkan perang.

Dengan demikian, jelas bahwa islam islam melarang keras eksremisme tetapi menganjurkan untuk selalu berbuat kebaikan. Pemuda saat ini yang notabenenya adalah masa depan bangsa dan negara agar mampu meng-counter paham ekstrem dan radikal demi kemaslahatan bersama sebagai umat manusia.

Melalui tulisan ini, penulis pribadi mengajak seluruh saudara-saudari sekalian untuk bersama-sama kita menjaga tanah air tanah kelahiran kita yakni NKRI dari jajahan ideologi maupun jajahan yang berbaur perpecahan antar umat beragama, bangsa, dan negara.

Bukankah memang secara etimologis (sanskerta), agama itu berarti A (tidak) dan Gama (Kacau). Masihkah kita bisa dikatakan beragama dan cinta damai bila suka bikin onar dan kacau ?.

Walloohul Muwaafiq Ilaa Aqwaamith Thoriq...
Credit by : Baso
Prodi Hukum tata negara, IAIN Palopo.
Palopo - 31 Juli 2019.

Referensi :
1.transformasi politik islam dari segi radikalisme, khilafatisme, dan demokrasi.
2. Ilmu kalam (edisi revisi).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

Perempuan sebagai Hamba Allah Swt

  Perempuan sebagai Hamba Allah Swt penulis: Nur Azima “cara pandang yang membeda-bedakan status gender (jenis kelamin), ras, suku, agama dan bangsa bukanlah cara pandang Tuhan melainkan cara pandang manusia” _KH. Husein Muhammad_ Islam sangat memperhatikan kondisi dan kedudukan perempuan. Islam  melakukan transformasi sosial atas status, posisi, dan peran perempuan, baik dalam ruang domestik maupun publik dengan cara-cara yang mulia tanpa melewatI atau mempertentangkan batas yang menjadi koodrat bagi perempuan Sejarah  yang tidak terelakkan mengamini kita untuk melihat keagungan Allah Swt dalam menciptakan makhluknya dengan sebaik-baiknya. Diantara Allah itu maha maha ‘adil’, subtansi Al-Quran adalah cinta dan kasih sayang, dengan demikian substansi Al-Qur’an juga seluruhnya juga tergambarkan sebuah keadilan sebagai manifestasi cintanya, termasuk adil antara laki-laki dan perempuan.  Pada zaman ‘jahiliyah’ kondisi perempuan sangatlah tidak manusiawi, begitu banyak p...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...