Langsung ke konten utama

Tiga Nyawa Pergerakan (PMII)



       Dalam rekam jejaknya, PMII terbentuk karena konflik dan juga dukungan situasi kondisi. Tidak heran jika dewasa ini anak-anak PMII selalu berputar dalam masalah konflik internal. Pada tahun 1952, adalah adalah puncak pertarungan NU dan Masyumi yang berdampak pada keluarnya NU dari Masyumi. Lingkaran Kondisi politik memaksa pemuda NU  membuat wadah untuk regenerasi NU.

      1960 ketika PMII resmi dideklarasikan (Kaliurang), rasa dahaga yang kian lama terasa akhirnya terlegakan oleh hadirnya wadah dan spirit baru bagi pemuda NU. Tahun 1960 (an) setelah PMII resmi berdiri, problematika konflik tidak berhenti begitu saja, mahbub Djunaidi memimpin demonstrasi pertama kepada pihak NU, yang nantinya berdampak pada resminya independensi pada tahun 1972.

   Beranjak pada 1990 an, para warga atau kader PMII sadar bahwa mereka tidak lepas dari kultur yang dibawa NU. Secara ideologi PMII dan NU sama sama berlandaskan ASWAJA dan menggaungkan ISLAM NUSANTARA. Artinya bahwa PMII dan NU mempunyai ikatan secara kultur.

    PMII sendiri mempunyai mata rantai yang saya sebut sebagai NYAWA organisasi. Dimana ketiganya tidak bisa dipisahkan. Yang pertama adalah ASWAJA, aswaja punya peranan penting karena dia berada pada posisi ideologi. Dalam peranannya, ASWAJA sebagai metodologi berfikir(manhaj al-fiqr), beranjak dari sejarah ketika munculnya golongan-golongan Islam sampai pada Islam transnasional (garis keras), Aswaja ini dijadikan sebagai pisau analisis untuk bergerak melihat berbagai aspek perbedaan dalam kehidupan sehari hari dengan 4 prinsip nya (moderat, toleran, adil, dan seimbang). Maka dari itu Aswaja diposisikan sebagai kepala di PMII, nah itulah nyawa pertama PMII.

     Kedua, adalah materi KE-PMII AN, sebagai anak PMII sendiri, memahami sejarah berdirinya PMII penting bahkan wajib hukumnya bagi kader, tidak sebatas tau bahwa PMII lahir 1960 saja, tapi apa yang melatar belakangi berdirinya juga. Secara historis, PMII lahir dari gejolak politik dan juga konflik eksternal dan internal dari kubu NU dan pemuda NU sendiri. Carut marutnya kondisi waktu itu memaksa munculnya organisasi ini. Jadi jangan heran kalau sekarang PMII hanya berkutat pada pusaran konflik internalnya, tapi itu bukan alasan untuk tidak kembali pada poros kaderisasi. Yang terpenting adalah kita sebagai generasi penerus harus sadar dan melepaskan ego itu untuk meretas konflik yang tidak kunjung usai ini. Jadi materi Ke-PMII-an berperan menjadi tubuh PMII bagi kader.

   Mata rantai terakhir adalah NDP, diawali dengan rancunya pola pikir kader, sehingga arah pergerakan semakin tidak terkontrol. Maka NDP hadir sebagai RUH nya PMII untuk mengontrol gerak, pijak, dan berucap. Juga tali pengikat (ukhuwah) kader. Tidak hanya itu, NDP dijadikan sebagai landasan dalam memaknai segala persoalan kader. Maka dari itu, perlu adanya nilai yang kemudian disublimasikan untuk sebagai suatu landasan. Makanya selain sebagai ruh NDP juga sebagai kaki nya kader.

     Tiga mata rantai diatas, adalah bentuk materiel yang final dari PMII sebagai organisasi. Nampaknya kurang sah kalau pesan dari seorang KH. Idham Cholid tidak saya cantumkan, dari beliau berkata "ilmu jangan untuk ilmu, tapi ilmu untuk diamalkan". Sekiranya ini adalah barisan pengantar dari saya, bagaimana sahabat-sahabat(i) bisa memaknai segala sesuatu itu tidak hanya sebatas melihat apa yang sudah nampak, melainkan bagaimana mengetahui dulu isi rumah sendiri sebelum rumah orang lain dan paham pondasi yang memperkuat nya.


Credit by : Hari Irawan
Bidang Kaderisasi Dan Keilmuan
PK. PMII IAIN PALOPO.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...