"LAKUM DINUKUM WALIYADIN"
Melihat rekam jejak historis PMII yang lahir sebagai wadah teologi pembebasan sebagai salah satu bentuk respon terhadap berbagai macam teologi, diantaranya adalah teologi transnasional yang ingin menerapkan konsep proses arabisasi di nusantara dengan landasan Al quran dan Al hadits dan meneriakkan TBC untuk menghilangkan tradisi yang ada di nusantara. Dengan alasan seperti itulah PMII punya pondasi untuk membentengi teologi semacam itu yang mengcounter hal tersebut. Bahkan ada yang menuduh sesat bahkan menghalalkan darah para atheis. Nah paham dunggu seperti itulah PMII mengcounter dengan menggaungkan islam nusantara, islam progresif, fleksibel, dan moderat serta perubahan yang terus menerus dan menyesuaikan zaman.
"TEORI SOSIAL KRITIS"
Dalam hal ini, PMII punya basis berfikir kritis berbasis realitas "BKBR" tonggak inilah bahwa PMII organisasi kemahasiswaan yang memiliki intelektualitas yang notabene landasannya adalah kritis terhadap kesadaran nasional yang membebaskan kaum mustadafin. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kolektif, progresif, solidaritas bersatu bukan berdua karna sejarah sudah mencatat pada tahun 1928 kita berkumpul bersatu semua yang ada di nusantara bersatu baik oraganisasi daerah dll. Sungguh sangat miris lah anak PMII hari yang masih saja bergelut ORGANDA lupakan dengan sejarah "RASIS" dan lihatlah perlawanan nasional yaitu melawan kaum mustaqbirin dimana dalam bernegara harus kita lontarkan ide-ide kritikan artinya kita punya keberpihakan pada "rakyat". Berikut beberapa tokoh yang pemikirannya bisa kita telaah bersama. Tokoh kritis, HEGEL dengan konsep materi, FRENDHENDBAS dengan konsep ide dan JURGEN HABERMAS.
"TRADISI RAKYAT"
Kita pahami negara kita adalah negara peradaban yang sangat luar biasa yang didalamnya kita punya emban untuk menjaganya. Diantaranya adalah negeri para raja, negeri sumber daya alam yang luas serta melimpah, negeri yang kaya aturan hukum yang ketat, negeri yang banyak tradisi adat istiadat yang bermacam-macam ragamnya. Dengan paham sejarah seperti inilah anak PMII tahu dan praktekkan dilingkungan masyrakat bagaimana menjaga,vmelestarikan karna NU dan PMII punya peran penting dalam kehidupan ini yaitu menjaga pesantren, menjaga agama lokal dan menjaga tarekat.
TIGA JANGKAR inilah pondasi utama anak PMII tahu dan memahami secara utuh untuk diimplementasikan ibaratkan garis horizontal dan vertikal dimana kedua garis ini sangat berperan penting dalam kehidupan kita ini. Horizontal mengajarkan kita bagimana mendahulukan kepentingan orang banyak atau mencintai sesuatu tanpa batas sedang vertikal mengajarkan kepada kita mencintai diri. Kita sendiri anak PMII harus luas memahami dan mengetahui sejarah berserta luas pula dalam upaya menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. PMII itu fleksibel begitupun dengan diri kita yang sudah kita tanamkan bahwa PMII tubuh kita. ASWAJA itu pola pikir kita sedang NDP roh kita. Nah begitupun dengan TIGA JANGKAR diatas TRADISI RAKYA sebagai tubuh kita sedangkan LAKUM DINUKUM WALIYADIN pola fikir atau alat komunikasi kita saat berinteraksi dengan lingkungan sekitar maupun umum agar kita tahu mana yang baik dan mana yang buruk dan TEORI SOSIAL KRITIS sebagai roh kita dan cara bergerak kita agar tidak terjerumus dengan kemunafikan. Ketika jangkar ini saling ketergantungan untuk kelangsungan hidup SIMBIOSIS MUTUALISTIK.
Credit by : Ayub Sadega
Anggota Bidang Advokasi
PK. PMII IAIN PALOPO.


Komentar
Posting Komentar