Langsung ke konten utama

Tiga Jangkar PMII


"LAKUM DINUKUM WALIYADIN"

Melihat rekam jejak historis PMII yang lahir sebagai wadah teologi pembebasan sebagai salah satu bentuk respon terhadap berbagai macam teologi, diantaranya adalah teologi transnasional yang ingin menerapkan konsep proses arabisasi di nusantara dengan landasan Al quran dan Al hadits dan meneriakkan TBC untuk menghilangkan tradisi yang ada di nusantara. Dengan alasan seperti itulah PMII punya pondasi untuk membentengi teologi semacam itu yang mengcounter hal tersebut. Bahkan ada yang menuduh sesat bahkan menghalalkan darah para atheis. Nah paham dunggu seperti itulah PMII mengcounter dengan menggaungkan islam nusantara, islam progresif, fleksibel, dan moderat serta perubahan yang terus menerus dan menyesuaikan zaman.

"TEORI SOSIAL KRITIS"

Dalam hal ini, PMII punya basis berfikir kritis berbasis realitas "BKBR" tonggak inilah bahwa PMII organisasi kemahasiswaan yang memiliki intelektualitas yang notabene landasannya adalah kritis terhadap kesadaran nasional yang membebaskan kaum mustadafin. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kolektif, progresif, solidaritas bersatu bukan berdua karna sejarah sudah mencatat pada tahun 1928 kita berkumpul bersatu semua yang ada di nusantara bersatu baik oraganisasi daerah dll. Sungguh sangat miris lah anak PMII hari yang masih saja bergelut ORGANDA lupakan dengan sejarah "RASIS" dan lihatlah perlawanan nasional yaitu melawan kaum mustaqbirin dimana dalam bernegara harus kita lontarkan ide-ide kritikan artinya kita punya keberpihakan pada "rakyat". Berikut beberapa tokoh yang pemikirannya bisa kita telaah bersama. Tokoh kritis, HEGEL dengan konsep materi, FRENDHENDBAS dengan konsep ide dan JURGEN HABERMAS.

"TRADISI RAKYAT"

Kita pahami negara kita adalah negara peradaban yang sangat luar biasa yang didalamnya kita punya emban untuk menjaganya. Diantaranya adalah  negeri para raja, negeri sumber daya alam yang luas serta melimpah, negeri yang kaya aturan hukum yang ketat, negeri yang banyak tradisi adat istiadat yang bermacam-macam ragamnya. Dengan paham sejarah seperti inilah anak PMII tahu dan praktekkan dilingkungan masyrakat bagaimana menjaga,vmelestarikan karna NU dan PMII punya peran penting dalam kehidupan ini yaitu menjaga pesantren, menjaga agama lokal dan menjaga tarekat.

TIGA JANGKAR inilah pondasi utama anak PMII tahu dan memahami secara utuh untuk diimplementasikan ibaratkan garis horizontal dan vertikal dimana kedua garis ini sangat berperan penting dalam kehidupan kita ini. Horizontal mengajarkan kita bagimana mendahulukan kepentingan orang banyak atau mencintai sesuatu tanpa batas sedang vertikal mengajarkan kepada kita mencintai diri. Kita sendiri  anak PMII harus luas memahami dan mengetahui sejarah berserta luas pula dalam upaya menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. PMII itu fleksibel begitupun dengan diri kita yang sudah kita tanamkan bahwa PMII tubuh kita. ASWAJA itu pola pikir kita sedang NDP roh kita. Nah begitupun dengan TIGA JANGKAR  diatas TRADISI RAKYA sebagai tubuh kita sedangkan LAKUM DINUKUM WALIYADIN pola fikir atau alat komunikasi kita saat berinteraksi dengan lingkungan sekitar maupun umum agar kita tahu mana yang baik dan mana yang buruk dan TEORI SOSIAL KRITIS sebagai roh kita dan cara bergerak kita agar tidak terjerumus dengan kemunafikan. Ketika jangkar ini saling ketergantungan untuk kelangsungan hidup SIMBIOSIS MUTUALISTIK.


Credit by : Ayub Sadega
Anggota Bidang Advokasi
PK. PMII IAIN PALOPO.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...

Perempuan sebagai Hamba Allah Swt

  Perempuan sebagai Hamba Allah Swt penulis: Nur Azima “cara pandang yang membeda-bedakan status gender (jenis kelamin), ras, suku, agama dan bangsa bukanlah cara pandang Tuhan melainkan cara pandang manusia” _KH. Husein Muhammad_ Islam sangat memperhatikan kondisi dan kedudukan perempuan. Islam  melakukan transformasi sosial atas status, posisi, dan peran perempuan, baik dalam ruang domestik maupun publik dengan cara-cara yang mulia tanpa melewatI atau mempertentangkan batas yang menjadi koodrat bagi perempuan Sejarah  yang tidak terelakkan mengamini kita untuk melihat keagungan Allah Swt dalam menciptakan makhluknya dengan sebaik-baiknya. Diantara Allah itu maha maha ‘adil’, subtansi Al-Quran adalah cinta dan kasih sayang, dengan demikian substansi Al-Qur’an juga seluruhnya juga tergambarkan sebuah keadilan sebagai manifestasi cintanya, termasuk adil antara laki-laki dan perempuan.  Pada zaman ‘jahiliyah’ kondisi perempuan sangatlah tidak manusiawi, begitu banyak p...