Langsung ke konten utama

Bumi itu datar?


The World Is Flat (buku), Lima april 2005, Thomas L. Friedman melukiskan “penjajahan” kontemporer dalam literatur tersebut. Sudah barang tentu, hal ini bukan lagi hal yang tabu untuk menjadi suatu "public discourse". Seyogyanya, akan terkonstruk suatu kesadaran kolektif terkait kapitalisme global gelombang ke III ini.

Menurut kacamata Friedman, para aktor dalam percaturan Geo-Eko-Pol ini, memiliki “kesempatan” yang sama dalam “berikhtiar” untuk apapun “nawaitu” mereka. Berangkat dari hal tersebut, tentu ini akan menjadi tunggangan empuk bagi para aktor kapitalis, sosialis, dan segala tetek bengek yang bertalian dengan hal tersebut.

Mengingat fenomena masa kini, bumi ibarat kertas yang dapat dilipat untuk komsumsi informasi dimanapun dan kapanpun melalui gadget. Nah, barangkali inilah yang dialegorikan oleh Friedman sebagai “the flat” yang sudah barang tentu akan melegitimasi “mega proyek” ini.

Membaca fenomena kontemporer, tentu lebih syahdu sekiranya kita mem”presentis”kan sejarah kebangsaan kita dalam “telikungan kapitalisme global dalam sejarah bangsa indonesia”, sebuah buku karangan Hasyim Wahid dkk, yang membahas hal tadi dengan cukup gamblang. Intinya, pertalian fenomena sejarah indonesia dengan fenomena masa kini, ibarat dua sisi uang koin.

Bahkan dalam sambutan buku tersebut dikatakan bahwa, “Setiap upaya diagnosa dan terapi atas persoalan yang terjadi di Indonesia tanpa melihat keterkaitannya dengan konstelasi global, niscaya akan menemui kegagalan”. Betapa naif sekiranya kita memandang problematika kebangsaan kita secara parsial.

Indonesia, negeri yang “multi” dihampir seluruh aspek. Sudah barang tentu tak bisa lagi dinafikan sebagai “target empuk” dari apa yang telah saya katakan sebelumnya.

Samuel P. Huntington dalam suatu tesisnya yang bertemakan “Benturan Peradaban” meramal bahwa, problematika kontemporer serta kedepannya, itu terjadi bukan lagi dalam ranah ke”Nasionalisme”an yang satu dengan lainnya. Akan tetapi, dimotori oleh beberapa konspirasi yang bertalian dengan peradaban. Sebut saja China, Barat, Muslim dll.

Suatu fenomena problematis, yang mana mereka akan mengalami per(di)gesekan yang sudah bisa dipastikan akan merugikan mereka sebagai lakon. Mirisnya, ada beberapa pihak yang diuntungkan atau lebih tepatnya, mengambil keuntungan dengan adanya hal tersebut. Namun yang paling miris, ialah bahkan antar elemen satu negara akan mengalami benturan tersebut.

Proxy war, demikian istilah yang acapkali digunakan untuk fenomena terjadinya gesekan tadi. Suatu kesemrawutan, bahkan pertumpahan darah yang terjadi pada suatu wilayah atau negara. Akan tetapi, para lakon yang bergesekan tadi hanyalah korban dari tangan-tangan tak terlihat.

Bung Karno, salah seorang founding fathers republik Indonesia pernah mengatakan bahwa, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri”. Olehnya, menjadi tanggung jawab bersama untuk merawat bangsa kita agar tak dirongrong oleh hal yang sebagaimana telah kita bahas.

Selaku warga Nahdliyin sekaligus warga pergerakan, dan pastinya selaku “belati” pancasila, maka marilah kita buktikan pada dunia bahwa kesaktian Pancasila masih eksis hari ini hingga tanah tak bisa menyapa air lagi.

Credit by : Idrisefendy 

Palopo, 21 FEBRUARI 2019 (15 APRIL 2017)

(Ket. Reshare and remake dari tulisan sebelumnya)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...