Langsung ke konten utama

STRATEGI PENYEBARAN DAKWAH WALISONGO DI NUSANTARA



Membahas tentang masuknya Islam di Nusantara, terlebih dahulu kita harus berangkat dari sejarah. Perlu kita ketahui bersama bahwa pada abad ke 7 Masehi, islam sudah masuk di Nusantara yang di bawa oleh para Saudagar Arab, akan tetapi islam belum dianut oleh masyarakat Nusantara secara masif karena Pribumi pada saat itu kebanyakan penganut kepercayaan Kapitayang

Pada dasawarsa akhir abad ke 13, Marcopolo yang kembali dari Cina lewat laut melalui teluk Persia, menulis bahwa, saat kapal yang ditumpanginya singgah di Negeri Perlak, ia melihat penduduk Perlak terbagi menjadi tiga golongan Masyarakat yaitu: Kaum Muslim Cina, Kaum Muslim Persia-Arab dan penduduk pribumi yang masih memuja roh-roh. Dalam catatan sejarah juga disebutkan bahwa saat kunjungan ketujuh juru tulis Laksamana Cheng Ho mencatat, bahwa pribumi asli belum menganut islam sepenuhnya. 

Ma Huan yang ikut dalam kunjungan Cheng Ho yang ketujuh tepatnya pada tahun 1433 mencatat bahwa penduduk yang tinggal di sepanjang Pantai Utara Jawa terdapat tiga golongan yaitu: Muslim Cina, Muslim Persia Arab, dan pribumi yang masih menganut kepercayaan Kapitayang atau penganut kepercayaan Animisme dan Dinamisme. 

Itu artinya, bahwa sejak hadir di Nusantara pada Awal Zaman Islam pada tahun 674 M hingga tahun 1433 M rentang waktu sekitar delapan ratus tahun Agama Islam belum dianut secara besar-besaran oleh penduduk pribumi (Nusantara).

Pada abad ke 14 seorang ulama yang berasal dari Negeri Champa, yang bernama Syaikh Ibrahim As-samarkandi bersama dua anaknya Ali Murtadho dan Ali Rahmatullah datang ke Nusantara untuk menyebarkan Agama Islam. Semangat penyebaran islam ini di picu oleh Hadits Nabi Muhammad SAW. yang berbunyi, “Balligu ‘anni walau ayat" (sampaikan dari aku walaupun satu ayat), yang kiranya memberikan dorongan-dorongan yang sangat besar untuk menyebarkan Islam. 

Kemudian pada abad ke 15, ulama ini mulai menyebarkan agama islam di tanah Jawa. Bersama penerusnyalah, dua bersaudara ini menjadikan sebagai arus besar dalam tatanan masyarakat Jawa pada khususnya dan masyarakat Nusantara pada umumnya. Fakta sejarah kemudian menunujukkan bahwa setelah kedatangan Raden Rahmat  dan saudara tertuanya, Raden Ali Murtadho ke Jawa. 

Raden Rahmat diangkat menjadi Imam Masjid di Surabaya dan dikenal sebagai Sunan Ampel dan Ali Murtadho diangkat menjadi Raja Pandhita di Gresik dan dikenal sebagai Sunan Gresik. Agama Islam mulai dianut oleh kalangan elit pribumi di kalangan keluarga Majapahit yang selanjutnya dianut pula oleh masyarakat umum pribumi secara luas. Nah disini kita akan sedikit mengulas tentang peran dakwah yg dilakukan oleh para Walisongo. 

Adapun Walisongo yg sangat berperan dlam penyebaran dakwah akan kita ulas sebagai berikut:

1. Sunan Ampel
2. Sunan Giri
3. Sunan Bonang
4. Sunan Sunan Kalijaga
5. Sunan Gunung Jati
6. Sunan Drajat
7. Syekh St. Jenar / Syekh Datuk Abdul Jalil
8. Sunan Kudus.
9. Sunan Muria.

Sembilan Wali songo inilah yang sangat berperan Aktif dalam menyebarkan Paham keislaman Di Nusantara. Perlu dipahami bersama bahwa dakwah merupakan suatu penyampaian yang wajib dilaksanakan bagi setiap Kaum Muslimin. Entahka itu dia Petani, rakyat biasa, dll. Walaupun seseorang menyampaikan dakwah itu hanya berdasarkan 1 Ayat. Berangkat dari Hadits Nabi Muhammad SAW. "Balligu ‘anni walau ayatan" (Sampaikan lah itu walaupun satu ayat)

Dari Hadits Nabi itulah para saudagar mempunyai semangat juang untuk betul-betul Membumikan Islam di Nusantara dengan cara mengakulturasikan antara agama dan kebudayaan yang ada di Nusantara. Dan kalau kita ingin melihat sekilas kembali sejarah Awal masuknya Islam di Nusantara itu sangat susah, karena di Nusantara terdapat Kelompok yang dikenal dengan sebutan Bhairawatantra, yang dimana kelompok tersebut bisa digolongkan sangat kejam ketika ada seseorang masuk di Nusantara yang ingin mengubah kepercayaan yang dianutnya. 

Maka dengan cerdiknya para saudagar yang mempunyai semangat juang untuk menyebarkan Islam di Nusantara itu memasuki lewat budaya yang terdapat di Masayrakat Lokal Nusantara.


Credit by : Toworru
Ref. KH. Ng. Agus Sunyoto

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi Pola Pikir Generasi Muda Masa Kini

Corak pemikiran generasi muda saat ini bersifat fanatis terhadap sesuatu sepanjang apa yang terlihat olehnya sehingga tak mampu merasai makna yang tersembunyi. Secara realistis, para pemuda-pemudi hari ini disibukkan oleh hal yang berbau selfish, mulai mengupdate status dengan tagar halalkan atau tinggalkan, dan lain-lain. Sehingga mereka terjebak pada dogma yang dilakukan untuk tak lagi memikirkan kesatuan dan perdamaian di negara Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa proses ideologisasi yang begitu massif dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terorganisir untuk memecah belah kesatuan negara kita. Hoax bertebaran di media sosial yang menjadi bahan konsumsi bagi generasi muda, namun parahnya lagi ikut terlibat aktif dalam menyebarkan hoax di jejaring media sosial. Seperti yang sudah diterangkan di atas bahwa generasi muda kian mengagung-agungkan untuk menikah diusia muda, ditambah lagi dengan fenomena stigmatisasi pacaran ala syar'i. Namun belum cukup sadar bahwa ini ...

Seberapa Pentingkah Pendidikan Budaya dalam Era Globalisasi yang Progresif ?

Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama.  Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir.  Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poro...

SAYYIDAH AISYAH RA, Sang inspirator perempuan masa kini.

AISYAH merupakan wanita pilihan yang sangat istimewa, sang kekasih Rasulullah SAW. Sosoknya yang sangat cerdas menjadi modal tersendiri olehnya sehingga menjadi wanita yang dihormati dan disegani pada masanya, bahkan mungkin sampai saat ini masih dikagumi berkat kecerdasan yang dimilikinya.   Berbicara tentang sosok Aisyah dengan segala pemikirannya yang cemerlang, ilmu yang meluas, ketegasannya dalam bersikap, dan kepribadiannya yang mulia serta paras fisiknya yang sempurna membuat para kaum hawa masa kini sangat termotivasi, sehingga perempuan masa kini sangatlah ingin berkedudukan seperti sosok Aisyah, kekasih Rasulullah SAW.   Dapat kita ulas kembali beberapa jasa-jasa Aisyah dalam memperjuangkan harkat dan martabat perempuan, diantaranya : - Sosok Aisyah yang istiqomah membela hak perempuan. Tidak dapat dipungkiri, sejak zaman jahiliyah hingga masuknya ajaran islam di Arab, sosok perempuan tetap berada pada level kedua setelah laki-laki, padah...