Langsung ke konten utama

RELASI LELAKI DAN PEREMPUAN


Allah swt menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Keberpasangan mengandung persamaan sekaligus perbedaan, lelaki dan perempuan sama-sama berkewajiban menciptakan situasi harmonis dalam masyarakat,tentu saja situasi itu harus sesuai dengan kodrat dan kemampuan masing-masing.

Perbedaan antara lelaki dan perempuan dari segi fisik memang terlihat nyata sejak kelahirannya. Tetapi bukan hanya itu, seiring berjalannya waktu, perbedaan semakin nyata oleh tindakan masing-masing. Lelaki cenderung pada tantangan dan perkelahian (adrenalin), sedangkan perempuan cenderung pada kedamaian dan keramahan. Lelaki lebih agresif dan suka ribut perempuan lebih tenang dan tentram.

Menurut psikolog Mesir, Zakaria Ibrahim menulis bahwa, perempuan lebih cenderung masokhisme. Yaitu suatu kondisi yang menunjukkan mencintai diri sendiri yang berakaitan dengan kecenderungan menyakiti diri sendiri (berkorban), kecintaan pada dirinya itu memampukan perempuan untuk mengatasi kesulitan dan sakit yang telah menjadi kodrat yang harus di pikul khususnya ketika haid atau menstruasi, mengandung, melahirkan, menyusui, dan membesarkan anak.

Adapun pandangan islam tentang persamaan antara lelaki dan perempuan, secara umum dan singkat dikatakan oleh Alm. Syaikh Mahmud Syaltut, mantan Pemimpin tertinggi Al-azhar - Mesir menuliskan "Tabiat kemanusiaan lelaki dan perempuan hampir (dapat dikatakan) dalam batas yang sama, Allah telah menganugerahkan kepada perempuan dan lelaki potensi yang cukup untuk memikul aneka tanggung jawab sehingga kedua jenis itu mampu melaksanakan aneka kegiatan kemanusiaan yang umum dan khusus"

Sangat keliru bila kita menganggap bahwa lelaki dan perempuan seperti dua unit independen yang masing-masing berdiri sendiri. Kenyataanya keduanya saling berkaitan, berdekatan, dan berasimilasi.

Untuk itu, pentingnya mengetahui perbedaan dan persamaan tersebut agar orang-orang tidak mempersalahkan dan menzalimi pihak lain karena ada sebagian pihak yang mempermasalahkan interprestasi agama dan menganiaya perempuan karena mengusulkan hal-hal yang justru bertentangan dengan kodratnya.

Lelaki dan perempuan berhak memperoleh penghormatan sebagai manusia, akan tetapi akibat adanya perbedaan dan persamaan dibidang tertentu, tidak menjadikan keduanya sepenuhnya sama. Namun, ketidaksamaan ini tidak mengurangi kedudukan satu pihak dan melebihkan pihak yang lain. 

Persamaan itu di sini harus diartikan kesetaraan dan bila kesetaraan dalam hal tersebut telah terpenuhi, keadilan pun tegak karena keadilan tidak selalu berarti persamaan.

Jika dianalogikan ke dalam keluarga, misalnya jika ingin mengajar anak laki-laki agar memiliki kelemahlembutan dan rasa kasih sayang, dekatkan dengan seorang Ibu. Dan jika ingin mengajarkan anak perempuan agar kuat dan tanggung jawab dalam lingkungan pergaulannya maka dekatkan dengan seorang Ayah. Analogi itu sangat jelas membuktikan bahwa lelaki maupun perempuan saling membutuhkan satu sama lain.

Untuk itu, kita harus berkata bahwa kedekatan antara kedua jenis kelamin amat dibutuhkan oleh umat manusia  tanpa harus mempersamakannya dalam segala hal karena perlu kita tekankan bahwa lelaki adalah lelaki dengan sifat, keistimewaan, dan kekurangannya begitu pula dengan perempuan.


Credit by : Sahabat (i) Shinta Wati
Prodi HTN Semester 2

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi Pola Pikir Generasi Muda Masa Kini

Corak pemikiran generasi muda saat ini bersifat fanatis terhadap sesuatu sepanjang apa yang terlihat olehnya sehingga tak mampu merasai makna yang tersembunyi. Secara realistis, para pemuda-pemudi hari ini disibukkan oleh hal yang berbau selfish, mulai mengupdate status dengan tagar halalkan atau tinggalkan, dan lain-lain. Sehingga mereka terjebak pada dogma yang dilakukan untuk tak lagi memikirkan kesatuan dan perdamaian di negara Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa proses ideologisasi yang begitu massif dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terorganisir untuk memecah belah kesatuan negara kita. Hoax bertebaran di media sosial yang menjadi bahan konsumsi bagi generasi muda, namun parahnya lagi ikut terlibat aktif dalam menyebarkan hoax di jejaring media sosial. Seperti yang sudah diterangkan di atas bahwa generasi muda kian mengagung-agungkan untuk menikah diusia muda, ditambah lagi dengan fenomena stigmatisasi pacaran ala syar'i. Namun belum cukup sadar bahwa ini ...

Seberapa Pentingkah Pendidikan Budaya dalam Era Globalisasi yang Progresif ?

Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama.  Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir.  Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poro...

SAYYIDAH AISYAH RA, Sang inspirator perempuan masa kini.

AISYAH merupakan wanita pilihan yang sangat istimewa, sang kekasih Rasulullah SAW. Sosoknya yang sangat cerdas menjadi modal tersendiri olehnya sehingga menjadi wanita yang dihormati dan disegani pada masanya, bahkan mungkin sampai saat ini masih dikagumi berkat kecerdasan yang dimilikinya.   Berbicara tentang sosok Aisyah dengan segala pemikirannya yang cemerlang, ilmu yang meluas, ketegasannya dalam bersikap, dan kepribadiannya yang mulia serta paras fisiknya yang sempurna membuat para kaum hawa masa kini sangat termotivasi, sehingga perempuan masa kini sangatlah ingin berkedudukan seperti sosok Aisyah, kekasih Rasulullah SAW.   Dapat kita ulas kembali beberapa jasa-jasa Aisyah dalam memperjuangkan harkat dan martabat perempuan, diantaranya : - Sosok Aisyah yang istiqomah membela hak perempuan. Tidak dapat dipungkiri, sejak zaman jahiliyah hingga masuknya ajaran islam di Arab, sosok perempuan tetap berada pada level kedua setelah laki-laki, padah...