Langsung ke konten utama

PERJALANAN SANG BRUTAL MENJADI SANTRI



Pondok pesantren merupakan sebuah institusi pendidikan Islam yang dipimpin oleh seorang Kyai. Kyai ini adalah seorang alim yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat sehingga tidak jarang diberi karomah dan keberkahan oleh Allah SWT.

Alkisah disuatu daerah, ada seorang Ibu yang mempunyai anak yang sangat Liar, Nakal, dan Brutal (LNB). Bahkan bisa dikatakan anak tersebut sudah masuk dalam catatan golongan yang terlibat dalam Kasus NARKOBA kelas proletar, hisap lem FOX. 

Ibu ini sangat menginginkan anaknya untuk berubah. Bukan berubah jadi Kerasakti yang juga liar, nakal, brutal. Melainkan menjadi pribadi yang baik, bahkan sosok Ibu tersebut merasa iri melihat anak tetangga yang sangat mahir dalam memahami Ilmu-ilmu Agama, terutama dalam Pelafalan pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an. 

Suatu hari, Sang ibu tersebut membuka seraya membaca koran lokal yang berada didepan rumahnya. Tentu bukan koran selebriti, apalagi koran ramalan bintang. Pada saat itulah Sang ibu ini mendapati suatu informasi tentang pendaftaran bagi siswa yang ingin mendaftarkan dirinya untuk Mondok di Pesantren yang saat itu santer diberitakan lewat media.

Keesokan harinya, ibu tersebut membawa serta sang anak ke alamat yang tertera untuk mendaftarkannya sebagai Santri. Pada saat itu pulalah, sang Ibu bertemu dengan Sang Kyai yang merupakan pimpinan dari yayasan Pondok Pesantren tersebut. Ibu tersebut menitipkan anaknya pada seorang Kyai, sembari mengisahkan peliknya mengasuh sang anak yang makin menjadi.

Ibu ini bercerita bahwa anaknya sangat nakal dan berpesan kepada Kyai supaya tidak diperbolehkan pulang apabila belum menjadi anak yang baik. Sang Kyai pun menyanggupi. Dan sang Kyai pun mengatakan "Iya Bu. Insyaa Allah, semua berdasarkan kehendak-Nya. Ibu doakan, semoga anak ibu mendapat hidayah dari Allah."

Seiring Berjalannya waktu, santri ini ternyata masih belum bisa move on. Betul-betul nakal level max. Punya hobi Berkelahi dengan santri yang bahkan lebih tua dari dia, dan yang paling parah, suka mengintip santriwati yang sedang mandi. Mungkin hanya hukuman dari Para Dewa yang dapat menghentikannya.

Akhirnya pada suatu waktu, ia terjaring dalam razia atau operasi tangkap tangan (OTT) oleh pembina pesantren. Bisa dibayangkan, bila para santri yang sealiran dan semazhab dengannya berhamburan bak kapas yang dihamburkan. Naas, hanya dia yang terciduk dan menikmati prosesi sidang. Hasil sidang istimewa memutuskan bahwa, santri nakal ini dikeluarkan dari pesantren. Putusan ini sendiri mengharuskan ketua keamanan atau pembina menghadap ke Kyai.

"Mohon maaf pak Kyai, ini ada santri nakalnya minta ampun. Sudah melanggar peraturan pesantren, yaitu berkelahi dengan Santri yang lebih tua dari dia dan mengintip santriwati yang sedang mandi. Sudah kami sidang dan hasilnya, santri nakal ini harus dikeluarkan dari pesantren. Karena pelanggarannya sudah sangat kelewatan". Demikian ujar sang ketua pembina keamanan.

Ternyata jawaban sang Kyai mengejutkan. "Begini nak. Kalau santri ini nakal, kamu tidak usah bilang sama saya. Dulu waktu orangtuanya menitipkannya pada saya, memang karena nakal. Saya sudah berjanji untuk tidak memulangkannya sebelum dia menjadi anak baik. Kalau saya ijinkan pulang, saya akan berdosa karena melanggar janji dari orangtua Santri tersebut. Kalau begitu keputusan dari Pembina Pondok nanti Insya Allah setelah Sholat Subuh saya memanggil Santri tersebut".

Pada saat usai Sholat Subuh, santri yang Nakal tersebut dipanggil untuk menghadap Kyai. Pada saat Santri tersebut duduk di hadapan Kyai, Santri tersebut Menangis dan mengakui kesalahannya.

Pada dasarnya Pesantren Mempunyai tradisi hukuman tersendiri yang sangat berbeda dengan Lembaga-lembaga Pendidikan pada umumnya. Nah, pada saat santri tersebut sudah diberikan wejangan dari Kyai, maka Santri Tersebut di beri hukuman Untuk menyetor Hafalan Al-Qur'an sebanyak 1 Halaman setiap Subuhnya, dan Harus berada di dalam Masjid Sebelum Adzan Berkumandang.

Alhasil, Setahun Hukuman Santri tersebut Berjalan, santri tersebut sedikit demi sedikit mulai berubah. Terutama mengenai hafalan Al-Qur'annya, dia sudah mampu menghafal beberapa Juz. Dengan berubahnya watak santri yang tadinya Liar, Nakal, dan Brutal; maka Pembina dari pondok pesantren tersebut heran sekaligus bangga pada santri tersebut. 

Bahkan pada momentum tertentu, seperti Bulan Suci Ramadhan, Santri tersebut diamanahkan oleh Kyai untuk menjadi Imam disalah satu Masjid terdekat. Singkat cerita, saat menjelang akhir bulan suci Ramadhan, semua santri diliburkan. Pun dengan santri mantan langganan pembina ini. Ia kembali ke kampung halamannya. 

Mendadak ia menjadi pusat perhatian di kampung halamannya. Ia yang dulunya sebagai biang kerok dan kerapkali mengganggu teman-temannya, akan tetapi pada bulan Ramadhan kali ini dialah yang menjadi Muballigh, bahkan memimpin sholat Tarwih secara berjamaah. Tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi sang ibunda. 

Seiring berjalannya Waktu,  telah masuk pada tahun ketiga baginya Mondok. Tibalah saatnya untuk Ujian Pondokan berupa test evaluasi dan setor hafalan Qur'an selama berada di pondok Pesantren. Memang pada beberapa Pesantren, mempunyai kurikulum tersendiri yang sangat berbeda dengan kurikulum yang ada pada Pendidikan Formal pada Umumnya. 

Pada lembaga pendidikan formal ketika siswa ingin menghadapi tahap akhir sekolah, maka siswa di haruskan untuk mengikuti Ujian Nasional dan Ujian Akhir Sekolah. Sedangkan pada Pesantren (swasta), biasanya mempunyai ujian Pondokan yang mengkaji mengenai Kitab-kitab klasik. Kitab yang biasanya disebut sebagai kitab kuning atau kitab gundul. Kitab yang merupakan karya warisan ulama-ulama Shalaf sebagai khazanah keilmuan yang agung. 

Adapun tentang pelaksanaan pengajian, ada berbagai metode yang diterapkan. Antara lain : metode Bandongan, metode Sorongan, metode Hafalan, dll. Dari kajian kitab-kitab itulah yang akan dijadikan sebagai bahan uji untuk penyelesaian study di Pesantren pada umumnya dengan metode-metode tersebut.

Pasca selesai studi di Pesantren, biasanya para santri ada yang kembali mengabdikan diri di Pesantrennya, ada pula yang biasanya membentuk suatu lembaga pendidikan berbasis santri didaerahnya, biasanya berupa sanggar atau lainnya. Adapula yang melanjutkan studi di Perguruan Tinggi. Suatu perjalanan panjang demi proses insaniatul insaan (memanusiakan manusia).

Suatu pandangan picik bila memandang bahwa, Pesantren hanyalah lembaga pendidikan yang minim kontribusi bagi bangsa. Lewat pesantren, yang dulunya sang brutalis bisa bermetamorfosa menjadi sang santri nasionalis. Tentu kwalitas didikan para Kyai tak usah diragukan lagi. Dengan kesabaran dan keikhlasan darinya, dapat menanamkan akal budi pada para santrinya.

Untuk langkah selanjutnya, bagi para santri yang menempuh studi lanjutan di Perguruan Tinggi, sudah barang tentu akan lebih enjoy dan mudah beradaptasi. Terkait dunia akademik, mereka biasanya telah terdidik baik untuk urusan disiplin. Namun tentu berbanding lurus dengan pribadi masing-masing. Teruntuk santri yang berjiwa organisatoris, maka ia tentu akan lebih cenderung memilah yang mana yang sesuai dengan nilai-nilai yang telah ia dapatkan sebelumnya. Sebuah proses lanjutan yang akan dijalani oleh santri.

#SalamSantriNUsantara
#SalamLiterasi

Credit by : Toworru

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi Pola Pikir Generasi Muda Masa Kini

Corak pemikiran generasi muda saat ini bersifat fanatis terhadap sesuatu sepanjang apa yang terlihat olehnya sehingga tak mampu merasai makna yang tersembunyi. Secara realistis, para pemuda-pemudi hari ini disibukkan oleh hal yang berbau selfish, mulai mengupdate status dengan tagar halalkan atau tinggalkan, dan lain-lain. Sehingga mereka terjebak pada dogma yang dilakukan untuk tak lagi memikirkan kesatuan dan perdamaian di negara Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa proses ideologisasi yang begitu massif dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terorganisir untuk memecah belah kesatuan negara kita. Hoax bertebaran di media sosial yang menjadi bahan konsumsi bagi generasi muda, namun parahnya lagi ikut terlibat aktif dalam menyebarkan hoax di jejaring media sosial. Seperti yang sudah diterangkan di atas bahwa generasi muda kian mengagung-agungkan untuk menikah diusia muda, ditambah lagi dengan fenomena stigmatisasi pacaran ala syar'i. Namun belum cukup sadar bahwa ini ...

Seberapa Pentingkah Pendidikan Budaya dalam Era Globalisasi yang Progresif ?

Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama.  Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir.  Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poro...

SAYYIDAH AISYAH RA, Sang inspirator perempuan masa kini.

AISYAH merupakan wanita pilihan yang sangat istimewa, sang kekasih Rasulullah SAW. Sosoknya yang sangat cerdas menjadi modal tersendiri olehnya sehingga menjadi wanita yang dihormati dan disegani pada masanya, bahkan mungkin sampai saat ini masih dikagumi berkat kecerdasan yang dimilikinya.   Berbicara tentang sosok Aisyah dengan segala pemikirannya yang cemerlang, ilmu yang meluas, ketegasannya dalam bersikap, dan kepribadiannya yang mulia serta paras fisiknya yang sempurna membuat para kaum hawa masa kini sangat termotivasi, sehingga perempuan masa kini sangatlah ingin berkedudukan seperti sosok Aisyah, kekasih Rasulullah SAW.   Dapat kita ulas kembali beberapa jasa-jasa Aisyah dalam memperjuangkan harkat dan martabat perempuan, diantaranya : - Sosok Aisyah yang istiqomah membela hak perempuan. Tidak dapat dipungkiri, sejak zaman jahiliyah hingga masuknya ajaran islam di Arab, sosok perempuan tetap berada pada level kedua setelah laki-laki, padah...