Langsung ke konten utama

"PERCARIAN JATI DIRI DEMI PERSATUAN DAN MASA DEPAN NEGERI INI"

Dalam jiwa dan raga sebagai HAMBA ataupun abdi negara, sudah sepatutnya kita untuk mencari jati diri dengan menggali setiap potensi yang dimiliki. Karakter dan kepribadian santun pun tak luput dari cakrawala manusia yang harus disinergitaskan dengan ruang lingkup kehidupan.

Ilmu agama ataupun ilmu pengetahuan di salurkan melalui hati dan fikiran, yang di cerna lewat akal, dan di reproduksi oleh otak sehingga dapat di pasarkan melalui media harian yang kita putari serta harkat dan martabat harus kita junjung tinggi agar tak di labeli dengan pendiskriminasian dari orang lain bahwa lebih rendah dari syaitan.

Sudah khodrat manusia dari prosesi penciptaannya sebagai pemimpin terhadap diri sendiri maupun bagi orang lain. Pemimpin yang dimaksud terhadap diri sendiri adalah senantiasa mampu melawan hawa nafsu yang dapat menariknya melakukan perkataan dan perbuatan yang mengandung unsur negatif dan mengakibatkan menciderai moralnya.

Nah, pemimpin bagi orang lain yang dimaksud disini yaitu mampu membawa dampak perubahan positif di lingkungannya dan selalu memposisikan dirinya dalam kebaikan sehingga bernuansa pembuktian bahwa eksistensinya sebagai pemimpin di muka bumi ini berfungsi secara proporsional.

Di Indonesia atau yang dahulu di kenal dengan Nusantara, sangat menjunjung tinggi kepribadian yang santun, harkat dan martabatnya. Sehingga potensi perpecahaan dari setiap kobaran konflik yang pernah terjadi dapat di netralisir. Semangat cinta tanah air ataupun persatuan semakin erat karena di dasarkan pada ideologi PANCASILA, UUD 1945, semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA dan NKRI adalah harga mati.

Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah kelak ketika kita menjadi kaum tua dapat mempertahankan keutuhan dan persatuan negeri ini ataukah menyandang status kaum tua di kemudian hari hanya akan berpotensi membuat perpecahaan pada negeri ini? Dengan melihat realitas dari percaturan globalisasi? 

Mengingat regenerasi penerus bangsa hari ini, sudah terjangkit virus yang hanya terjebak dalam euforia belaka, serta tak dapat lagi membendung hawa nafsunya yang mengekspektasi diri secara vulgar. Sehingga merusak dan menciderai moralnya sebagai HAMBA dan abdi negara.

Pentingnya pencangkokan sejak dini dari segala potensi yang dimiliki oleh setiap INSAN dengan berlandaskan keimanan dan akhlak yang baik, guna sebagai pondasi yang kokoh serta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi boemi poetra. Yakin dan percaya bahwa apa yang di tanam hari ini, kelak pasti akan berbuah manis di hari esok. Sisa tergantung mengatur alur dari proses rutinitas kita melakukan pemupukan yang di tanami hari ini.

Mungkin hanya sedikit yang dapat terurai lewat sudut pandang ini, karena minimnya kapasitas yang dimiliki. Semoga kita senantiasa menjaga keharmonisasian dalam bercengkrama dengan orang lain dan tetap beridentitaskan Indonesia yang mencerminkan kepribadian dan karakter yang santun sehingga kedepannya tak diberi dengan label Indonesia yang kaget-kagetan.

Terakhir semoga tak memunculkan stigma, pun juga mengharapkan pengkoreksian dan pemakluman dari setiap kekurangan yang didapatkan.

#salambirukuning.


Muhammad Rafly Setiawan 
Koordinator bidang Gerakan dan Jaringan 
PK. PMII IAIN PALOPO

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...