Langsung ke konten utama

Menjadi Mahasiswa, Antara Garis Perlawanan Gerakan Jalanan atau Gagasan Perlawanan Dengan Coretan Pena



Akhir-akhir ini terjadi polemik gerakan perlawanan mahasiswa yang melakukan Demonstrasi baik itu masalah lokal maupun Nasional yang memuat kontroversi dikalangan Masyarakat maupun Mahasiswa.

Dalam pandangan masyarakat (sebahagian) yang melakukan kritikan pedas lewat Medsos terhadap Aksi Demonstrasi Mahasiswa.

Kritikan Mereka berfokus pada akhlak yang melekat pada mahasiswa sebagai kaum terdidik yang saat melakukan demonstrasi kadang mengganggu aktivitas masyarakat terlebih lagi merusak fasilitas masyarakat.

Tentunya dalam melihat frame ini ada nilai yang menjadi teguran bagi  mahasiswa yang melakukan demonstrasi.

Akan tetapi ada juga Masyarakat yang senang saat mahasiswa melakukan demonstrasi "berarti menandakan ada ketimpangan yang terjadi pada pemerintah".

Masyarakat seperti ini tentunya bisa menjadi mitra bagi mahasiswa untuk melakukan perlawanan jika mahasiswa mampu menjalin komunikasi dengan baik.

Ditingkat mahasiswa yang awam tentang demonstrasi pastinya juga mengalami kebingungan saat menghadapi kondisi diatas. Itu terlihat saat kontroversi diinternal mahasiswa sendiri, "bukan salah siapa-siapa".

Merefleksi gerakan demonstrasi mahasiswa yang selalunya hanya bersifat seremonial dan momentum saja apa lagi tulisan-tulisan tentang demonstrasi tersebut hanya dapat diambil alih oleh Media Online dalam mem-publish.

Seharusnya mahasiswa juga dapat menulis dan mem-publish dengan tulisannya sendiri karena itu merupakan keabadian dalam gerakan perlawanan tersebut.
Hal ini menandai kemunduran intelektual mahasiswa dalam hal Pena-nya .Jika memaknai perkataan Mahbub Djunaidi jurnalis zaman Orde Lama "aku akan terus menulis dan akan terus menulis sampai tak mampu lagi menulis", tentu merupakan spirit untuk mahasiswa dalam menyampaikan gagasannya melalui tulisan.

Memilih perlawanan Gerakan Demontrasi atau Menyampaikan perlawanan gagasan dengan pena tentu bukan hal yang mudah jika itu tidak didasari bekal pengetahuan.

karena sedikit banyak mahasiswa yang domonstrasi tanpa tulisan juga sedikit banyak mahasiswa menulis tanpa demonstrasi.

Oleh : Sahabat Aldi Amry

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seberapa Pentingkah Pendidikan Budaya dalam Era Globalisasi yang Progresif ?

Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama.  Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir.  Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poro...

SAYYIDAH AISYAH RA, Sang inspirator perempuan masa kini.

AISYAH merupakan wanita pilihan yang sangat istimewa, sang kekasih Rasulullah SAW. Sosoknya yang sangat cerdas menjadi modal tersendiri olehnya sehingga menjadi wanita yang dihormati dan disegani pada masanya, bahkan mungkin sampai saat ini masih dikagumi berkat kecerdasan yang dimilikinya.   Berbicara tentang sosok Aisyah dengan segala pemikirannya yang cemerlang, ilmu yang meluas, ketegasannya dalam bersikap, dan kepribadiannya yang mulia serta paras fisiknya yang sempurna membuat para kaum hawa masa kini sangat termotivasi, sehingga perempuan masa kini sangatlah ingin berkedudukan seperti sosok Aisyah, kekasih Rasulullah SAW.   Dapat kita ulas kembali beberapa jasa-jasa Aisyah dalam memperjuangkan harkat dan martabat perempuan, diantaranya : - Sosok Aisyah yang istiqomah membela hak perempuan. Tidak dapat dipungkiri, sejak zaman jahiliyah hingga masuknya ajaran islam di Arab, sosok perempuan tetap berada pada level kedua setelah laki-laki, padah...

Generasi Z dan Artifisial Intelegensi

  Penulis : Muhammad Arya Gandi Abdillah Setiap zaman istilah yang dilabelkan pada setiap generasi selalu berubah-ubah mulai dari generasi old, generasi milineal, dan generasi sekarang yakni generasi z. Seiring dengan perkembangan zaman maka perkembangan setiap generasi pun berubah. Perubahan istilah tersebut telah berdampak pada sistem serta cara hidup masyarakat, dengan pengalihannya pada alur teknologi, lalu perubahan demikian telah juga merembet pada generasi yang hampir seluruh aturan kehidupannya telah di sandarkan semuanya pada teknologi. Generasi z telah menjadi label bagi kalangan muda masa kini, dimana era penguasaan teknologi digunakan dalam beragam sektor. Ketika tidak memanfaatkan hal demikian untuk mencari serta menggunakan teknologi sebagai mana mestinya, maka manusia menjadi terlena oleh teknologi yang ada. Teknologi adalah peluang besar para generasi z untuk menemukan informasi positif dibalik penyajian teknologi, apalagi teknologi telah menggurita didalam setiap a...