Langsung ke konten utama

KONSTITUSI, acuan bernegara.

Dalam sebuah negara, sudah seharusnya memiliki rujukan sebagai pedoman dasar dalam bernegara. Adanya pedoman itu, agar tercipta keseimbangan untuk menghadirkan nilai kemerdekaan pada negara itu sendiri. Adapun pedoman itu, dikenal dengan sebutan Konstitusi.

Urgensi sebuah konstitusi, adalah hal yang tak bisa dinafikkan lagi. Hal ini dikarenakan, konstitusi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari negara. Konstitusi di Indonesia, dikenal dengan sebutan UUD 1945. 

Bila kita pahami secara lebih teliti dan mendalam, pada UUD 1945 terdapat empat alinea yang masing-masing dari alinea tersebut, mempunyai makna yang berbeda. Tapi, dari empat alinea pada pembukaan UUD 1945 itu semua untuk memajukan dan mengupayakan terwujudnya cita-cita Negara Indonesia.

Nilai yang terkandung dalam UUD 1945 inilah yang seharusnya ditanamkan pada diri setiap warga negara. Karena bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja untuk mencapai tujuan Negara, melainkan seluruh elemen yang ada didalam Negara tersebut. Termasuk kita (rakyat) sebagai warga negara.

Namun sayangnya, yang menjadi sumber pokok dari permasalahan ini adalah, pemerintah itu sendiri. Karena belum terlihat suatu kesadaran dari pemerintah untuk menerapkan nilai-nilai yang terkandung di UUD 1945 sebagai konstitusi negara. Hal itu terbukti, jika kita kembali melihat sejarah pada era kepemimpinan Soeharto yang mengeluarkan Kebijakan UUPMA yang sampai sekarang kita rasakan dampaknya. 

Sebagai contoh, Sumber Daya Alam (SDA) yang mayoritasnya dikuasai oleh asing, sampai utang luar negeri yang menumpuk. Karena pada saat itu, Presiden Soeharto memakai konsep Developmentalisme atau paham pembangunan. Suatu paham yang berpandangan bahwa, negara dapat dikatakan berkembang hingga maju, ketika terjadi pembangunan infrastruktur di Negara tersebut. Hal itulah yang ingin dilakukan oleh Presiden Soeharto pada saat itu. Namun sayanya, kurang memperhatikan kesejahtraan masyarakatnya.

Begitupun dalam sektor pendidikan, pada alinea ke empat pembukaan UUD 1945; disebutkan bahwa, "...Mencerdaskan kehidupan Bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia...". Namun nyatanya, sistem pendidikan pada saat ini, belum utuh dalam menerapkan dan mewujudkan nilai ini. Pendidikan hanya dijadikan sebagai wadah untuk berbisnis tanpa memperdulikan kemampuan peserta didik. 

Memang, ketika kita melihat realita yang terjadi di dunia pendidikan kita, murid hanya dijejali beragam ilmu pengetahuan dari guru. Pengetahuan dari guru ini, dijadikan kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat tanpa memberi ruang para peserta didik untuk mengkaji sumber pengetahuanya. 

Hal ini menurut salah seorang filsuf pendidikan asal Brasil, yaitu Paulo Freire. Paulo Freire bepandangan bahwa, sistem pendidikan yang demikian tidak tepat, karena tidak adanya proses timbal balik antara pendidik dan peserta didik. Proses seperti ini dikenal dengan sebutan Paedagogy.

Hal lainya yang juga menjadi perhatian adalah, mahalnya biaya pendidikan. Hal ini secara tidak langsung mematikan minat belajar masyarakat yang taraf ekonominya tergolong rendah. Bisa ditarik suatu simpulan bahwa, pendidikan hanya diperuntukan masyarakat yang taraf ekonominya diatas. 

Hal yang demikian ini pula pernah dikritik oleh Karl Marx. Menurutnya, pendidikan seharusnya untuk semua kalangan, tidak hanya untuk orang yang mempunyai uang saja. Karena ada hak disetiap orang untuk mendapatkan pendidikan. Maka untuk itu, Karl Marx ingin menghilangkan sekat itu lewat gagasan besarnya. Sosialisme. 

Kritik Karl Marx dari segi pendidikan sesuai dengan UUD 1945 Alinea ke empat, dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Memang dalam hal ini, sudah seharusnya pendidikan dirancang untuk semua kalangan tanpa berdalih bahwa itu semua untuk kenaikan fasilitas atau infrastriktur di tempat pendidikan tersebut.

Tentu, semua ini merupakan pekerjaan rumah buat kita sebagai warga negara. Terlebih untuk kalangan yang telah atau sedang menempuh pendidikan sampai perguruan tinggi. Kiranya mendalami dan menerapkan nilai konstitusi pada setiap insan untuk terlibat dalam upaya memajukan negara.

Credit by : Alfian Afandy
Bidang Kaderisasi dan Keilmuan 
PK. PMII IAIN PALOPO.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi Pola Pikir Generasi Muda Masa Kini

Corak pemikiran generasi muda saat ini bersifat fanatis terhadap sesuatu sepanjang apa yang terlihat olehnya sehingga tak mampu merasai makna yang tersembunyi. Secara realistis, para pemuda-pemudi hari ini disibukkan oleh hal yang berbau selfish, mulai mengupdate status dengan tagar halalkan atau tinggalkan, dan lain-lain. Sehingga mereka terjebak pada dogma yang dilakukan untuk tak lagi memikirkan kesatuan dan perdamaian di negara Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa proses ideologisasi yang begitu massif dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terorganisir untuk memecah belah kesatuan negara kita. Hoax bertebaran di media sosial yang menjadi bahan konsumsi bagi generasi muda, namun parahnya lagi ikut terlibat aktif dalam menyebarkan hoax di jejaring media sosial. Seperti yang sudah diterangkan di atas bahwa generasi muda kian mengagung-agungkan untuk menikah diusia muda, ditambah lagi dengan fenomena stigmatisasi pacaran ala syar'i. Namun belum cukup sadar bahwa ini ...

Seberapa Pentingkah Pendidikan Budaya dalam Era Globalisasi yang Progresif ?

Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama.  Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir.  Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poro...

SAYYIDAH AISYAH RA, Sang inspirator perempuan masa kini.

AISYAH merupakan wanita pilihan yang sangat istimewa, sang kekasih Rasulullah SAW. Sosoknya yang sangat cerdas menjadi modal tersendiri olehnya sehingga menjadi wanita yang dihormati dan disegani pada masanya, bahkan mungkin sampai saat ini masih dikagumi berkat kecerdasan yang dimilikinya.   Berbicara tentang sosok Aisyah dengan segala pemikirannya yang cemerlang, ilmu yang meluas, ketegasannya dalam bersikap, dan kepribadiannya yang mulia serta paras fisiknya yang sempurna membuat para kaum hawa masa kini sangat termotivasi, sehingga perempuan masa kini sangatlah ingin berkedudukan seperti sosok Aisyah, kekasih Rasulullah SAW.   Dapat kita ulas kembali beberapa jasa-jasa Aisyah dalam memperjuangkan harkat dan martabat perempuan, diantaranya : - Sosok Aisyah yang istiqomah membela hak perempuan. Tidak dapat dipungkiri, sejak zaman jahiliyah hingga masuknya ajaran islam di Arab, sosok perempuan tetap berada pada level kedua setelah laki-laki, padah...