Langsung ke konten utama

Kodrat Tuhan Atau Konstruksi Masyarakat...?

Seringkali kita temukan sebuah pernyataan bahwa, "sudah menjadi kodrat perempuan itu di dapur, kasur, dan sumur". Artinya, segala urusan seperti mendidik anak, merawat, dan mengelola kebersihan serta keindahan rumah tangga atau urusan domestik dilekatkan pada perempuan. Padahal, hal tersebut merupakan suatu konstruksi kultural dalam masyarakat tertentu. Untuk itu sangat perlu untuk kita ketahui, mana yang merupakan kodrat Tuhan dan mana yang merupakan hasil konstruksi masyarakat.

Dari pembahasan tersebut, tentunya sebahagian dari kita sudah terlintas dibenaknya kata yang tidak asing lagi, yaitu GENDER. Sungguh menarik membahas gender, terutama untuk saya sendiri. Untuk memahami apa itu gender, menarik untuk kita ulik bersama, sebuah buku yang ditulis oleh Dr. Manzour Fakih edisi kedua yang berjudul "Analisis Gender dan Transformasi Sosial". Padanya, terdapat penekanan bahwa sangat penting mengetahui terlebih dahulu perbedaan antara seks dan gender.

Kata seks (jenis kelamin), merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Misalnya jenis kelamin laki-laki memiliki penis, jakun, dan memproduksi sperma. Jenis kelamin yang lain adalah perempuan, memiliki alat reproduksi seperti vagina, rahim, memproduksi sel telur, menyusui, dan melahirkan. Secara biologis alat tersebut sudah melekat dan tidak dapat dipertukarkan. Karena sudah merupakan suatu Kodrat yang merupakan ketentuan Tuhan.

Sedangkan Gender, yakni suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya, perempuan itu dikenal lemah lembut, penyayang, jago masak, dan juga baperan (bawa perasaan) yang merupakan sebuah istilah dari kaum milenial. Sedangkan laki-laki, dikenal akan kuat, jantan, dan perkasa. Namun ada juga perempuan yang kuat perkasa dan ada juga laki-laki yang lemah lembut dan jago masak. Itu sudah cukup menandakan bahwa, sifat laki-laki dan perempuan selagi dapat dipertukarkan, itu merupakan suatu representasi dari apa yang disebut "gender".

Terbentuknya perbedaan-perbedaan gender, lebih dikarenakan banyak hal. Diantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat bahkan dikonstruksi secara sosial atau kultural melalui ajaran negara maupun agama.

Contohnya dalam ajaran agama, banyak dalil yang dikemukakan oleh para penentang hak perempuan. Baik penafsiran ayat Al-Qur'an dan Hadits Nabi, maupun dengan merujuk beberapa hal yang mereka nilai sebagai kelemahan perempuan. Misalnya merujuk kepada ayat "Lelaki adalah pemimpin-pemimpin perempuan" (QS.an-Nisa [4] : 34). Mereka memahaminya bersifat umum, padahal memahami penggalan ayat diatas, dalam arti khusus, yakni kehidupan rumah tangga. Justru lebih sesuai dengan konteks uraian ayat, apalagi lanjutan ayat tersebut menegaskan sebab kepemimpinan itu, yakni antara lain karena lelaki berkewajiban menanggung biaya hidup istri atau keluarga mereka masing-masing.

Namun banyak juga ditemukan dalil keagamaan yang dapat di jadikan dasar untuk mendukung hak-hak perempuan. Khususnya dalam bidang politik, misalnya kebijaksanaan Ratu Saba' yang memimpin wilayah Yaman (?) (Baca. QS.an-Naml [27] 44). Sekian banyak pula dalam catatan sejarah membuktikan bahwa, banyak perempuan yang memimpin berbagai negara misalnya Cleopatra (51-30 SM) di Mesir, dan Pada masa modern ini contohnya Margaret Thatcher di Inggris, Indira Gandhi di India, dan di Negara kita sendiri ada sebagian kota yang dipimpin oleh perempuan dan tidak diragukan lagi keberhasilan dan kecakapannya, seperti Gubernur Jawa Timur (Khofifah Indar Parawansa) dan juga Bupati Luwu Utara (Indah Putri Indriani) dan masih banyak lainnya.

Perlu menggunakan pedoman bahwa, setiap sifat biasanya melekat pada jenis kelamin tertentu dan sepanjang sifat-sifat tersebut bisa di pertukarkan, maka sifat tersebut adalah hasil konstruksi masyarakat dan sama sekali bukanlah ketentuan Tuhan. Oleh karena itu, sangat penting pemahaman tentang konsep gender. Karena itu merupakan hal yang mendasar dalam rangka menjelaskan masalah hubungan antara kaum perempuan dan kaum laki-laki atau masalah hubungan kemanusiaan kita.

"Wallaahul muwaafiq ilaa aqwamith thorieq"
credit by : Shinta Wati

Referensi : Analisis Gender dan Transformasi Sosial (Dr. Manzour Fakih).

Sumber gambar ilustrasi ; 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

Perempuan sebagai Hamba Allah Swt

  Perempuan sebagai Hamba Allah Swt penulis: Nur Azima “cara pandang yang membeda-bedakan status gender (jenis kelamin), ras, suku, agama dan bangsa bukanlah cara pandang Tuhan melainkan cara pandang manusia” _KH. Husein Muhammad_ Islam sangat memperhatikan kondisi dan kedudukan perempuan. Islam  melakukan transformasi sosial atas status, posisi, dan peran perempuan, baik dalam ruang domestik maupun publik dengan cara-cara yang mulia tanpa melewatI atau mempertentangkan batas yang menjadi koodrat bagi perempuan Sejarah  yang tidak terelakkan mengamini kita untuk melihat keagungan Allah Swt dalam menciptakan makhluknya dengan sebaik-baiknya. Diantara Allah itu maha maha ‘adil’, subtansi Al-Quran adalah cinta dan kasih sayang, dengan demikian substansi Al-Qur’an juga seluruhnya juga tergambarkan sebuah keadilan sebagai manifestasi cintanya, termasuk adil antara laki-laki dan perempuan.  Pada zaman ‘jahiliyah’ kondisi perempuan sangatlah tidak manusiawi, begitu banyak p...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...