Langsung ke konten utama

DISKRIMINASI PEREMPUAN DALAM RUMAH TANGGA



Kehadiran perempuan adalah kesimbangan dunia, lewat perempuan generasi terus berlanjut, perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan di dunia ini. Berkat godaan perempuan dunia ini diisi oleh manusia. Seiring perkembangan manusia, marwa perempuan sedikit demi sedikit bergeser. Hegemoni laki-laki menjadikan perempuan larut dalam perbudakan. Sebagaimana apa yang diresahkan Fatimah Marnissi, dirinya dikungkung oleh budaya Islam. Perempuan tidak boleh mendahului peran laki-laki diraung publik.
Karena hegemoni itulah sehingga di era yang terus berkemajuan dapat dilihat dari realita yang terjadi dimana dalam rumah tangga perempuan dijadikan sebagai orang kedua, dan yang memiliki kekuasaan tertinggi adalah laki-laki (suami), sebab katanya suami yang mencarikan nafkah dan memiliki penghasilan yang berkekuatan ekonomi sehingga banyak istri yang tunduk pada laki-laki, dikarenakan takut tidak diberikan nafkah.
Perempuan dibelenggu dalam rumah tangganya, perempuan yang harusnya mengurus dapur , anak dan suaminya. Ketertindasan perempuan dalam rumah tangganya telah menjadi budaya. Perempuan berada dalam genggaman kaum laki-laki, sehingga perempuan kurang mendapatkan informasi tentang dunia luar karena terlalu sibuk mengurusi rumah tangganya. Dapat juga dikatakan bahwa perempuan yang mengalami kekerasan baik secara fisik maupun psikologis seperti penganiayaan dan suami yang selingkuh. Sehingga mental dan moral perempuan yang takut terhadap suaminya lebih besar karena dikungkung oleh budaya patriarki. Disini terjadi diskriminasi dan pelecehan terhadap perempuan.
Karena persoalan tersebut hampir sebagian perempuan menginginkan perceraian karena perempuan menyadari dirinya berada dalam diskriminasi. Hak yang seharusnya diberikan sepenuhnya dikuasai oleh laki-laki. Kebebanan membuka mata batin perempuan untuk berada dalam rana publik. Ekonomi menjadi persoalan pada diri perempuan, karena itulah perempuan berupaya menuntut haknya dengan cara berusaha sediri tanpa melibatkan laki-laki. Faktor biaya hidup yang membuat perempuan sadar akan pentingnya mengembangkan potensi dirinya agar dapat memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat, belum lagi gerakan menuntut hak terus disuarakan oleh perempuan.
Di era sekarang ini ruang-ruang publik didominasi oleh perempuan, kebebasan perempuan dalam berpolitik telah diakomodir oleh negara, namun presentase perempuan mengisi legislatif hanya 30 %, angka itu sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah perempuan yang berada di Indonesia.
Seiring perkembang zaman tidak ada lagi perbedaan antara laki-laki dan perempuan, keduanya memiliki peranan, hak dan kesempatan yang sama karena adanya keseteraan dalam keadilan (gender). Sebagai seorang perempuan bangkitlah dan jangan mau bergantung dengan laki-laki, tunjukkan pada laki-laki bahwa perempuan bisa mandiri dan menghasilkan penghasilan sendiri. Jika perempuan cerdas katanya laki-laki akan datang dengan sendirinya. Kebanyakan laki-laki menyukai perempuan cerdas bukan perempuan yang hanya mengandalkan kecantikan walaupun memang kecantikan adalah nilai plus bagi perempuan dan laki-laki sekaligus penunjang penampilan.
Buktikan bahwa perempuan bukanlah mahluk yang diciptakan hanya sebagai pemuas nafsu laki-laki, melahirkan keturunan dan tidak memiliki peranan dalam kehidupan masyarakat. Tunjukkan bahwa perempuan juga dapat berdiri, dapat memimpin bangsa dan negara karena kodrat perempuan dan laki-laki sama terlahir sebagai seorang Khalifa (pemimpin), begitupun perempuan bagian dari sejarah perjuangan bangsa ini.
Perempuan tidak lagi boleh tinggal diam, sejarah perjuangan perempuan seperti R.A. Kartini yang menginginkan emansipasi wanita, Cut Nyai Din yang terus mengempur penjajah Belanda, Opu Daeng Risadju wanita yang aktif dalam politik dan masih banyak lagi.
Perempuan cerdas akan menghasilkan dan mendidik anak-anaknya menjadi generasi masa depan yang cerdas dan bermoral. Jadilah perempuan yang tangguh dan dapat diandalkan agar tidak terjadi lagi diskriminasi terhadap perempuan terutama dalam rumah tangga.
Laki-laki yang peduli akan bangsa dan negara serta generasi kedepannya akan menghormati, mendukung dan membantu perempuan dalam menekuni dunia publik. Sebab perempuan juga mempunyai hak untuk menentukan masa depannya. Keberhasilan seorang perempuan ada pada laki-laki yang mendukungnya sehingga perempuan tersebut berhasil dalam mencapai keinginan dan cita-citanya.

Credit by: Sahabat Norma Yunita Umar

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Berdirinya Negara

Terlepas daripada pengakuan secara de facto dan de jure, negara mampu berdiri kokoh dan utuh serta unggul terkemuka di kancah internasional. Namun justru hal ini luput dari ruang-ruang publik dan malah di pelintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wacana demi wacana beredar di khalayak untuk di jadikan ladang subur untuk di konsumsi masyarakat yang tidak berfaedah. Tindakan ekslusif yang tak menjanjikan terlebih lagi mematikan nalar kritis bagi kaum cendekiawan. Teringat beberapa fenomena yang terjadi, yang tak lain dan tak bukan adalah untik hasrat kapitalis media memainkan instrumennya dengan ritme yang sempurna. Hanya mengingatkan kembali bahwa kita selayaknya mengetahui relasi antara rakyat, pemerintah, kaum cendekiawan, budaya dan spiritualitas untuk menjaga esensi yang hingga saat ini membuat negara kita menjadi terbelakang dan hanya di pandang sebelah mata oleh negara adidaya. Skenario ini di buat lembaga-lembaga intelegent untuk mengambil peran yang sub...

PANCASILA or KHILAFAH ?

Jagat raya media sosial akhir-akhir ini, ramai bersahut-sahutan membahas tentang KHILAFAH. Ada apa dengan khilafah ? Mengapa harus khilafah ? Apakah khilafah betul-betul merupakan solusi untuk kejayaan negeri ini ? Seyogyanya, untuk menjawab tanya tersebut, marilah sama-sama kita kembali membuka lembaran sejarah perjalanan islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Pernahkah kita membaca literatur-literatur atau buku-buku dan semacamnya yang menjelaskan, seperti apa sistem penerapan dari terpilihnya para sahabat Rasulullah SAW sebagai Khalifah yang melanjutkan kepemimpinan islam pasca wafatnya Rasulullah sendiri ? Menurut referensi yang telah saya baca bahwa, sistem terpilihnya para sahabat Nabi, itu tidak menunjukkan adanya konsep kenegaraan islam yang baku dititipkan Rasulullah SAW. Justru pada saat wafatnya Rasulullah SAW pada 632 M, Nabi tidak pernah mewasiatkan kepada para sahabatnya siapa yang layak menggantikan posisinya sebagai pemimpin Keagamaan dan kenegaraan. Pertanyaannya ...

Pesantren sebagai Kiblat Pendidikan

Pernahkah kita berpikir, apa aset terbesar Negeri ini ? Wahai kaum muda , bangsa ini memiliki keragaman mulai dari sisi tradisi, budaya, dan agama. Akankah berbagai keragamaan itu mampu kita terus terjaga dan lestarikan ? Itu pertanyaan penting untuk kalangan muda dengan berbagai macam gagasan dan intelektualitas. Begitu banyak persoalan yang menjadi tantangan kaum muda hari ini. Mulai dari krisis moral, mental, dan praksis pengetahuan dalam kehidupan sehari hari yang kadang disepelekan.     Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis oleh Hadratussyeikh K.H. Hasyim Asyari bahwa, negeri ini punya identitas tersendiri. Identitas yang dimaksud itu adalah keragaman yang dimiliki bangsa ini. Namun adakah wadah yang tetap konsisten melestarikan keragaman itu ? Jawabnya tentu saja PESANTREN . Mungkin itulah wadah pendidikan yang akan saya ulas dalam tulisan ini.     Kenapa harus pesantren ? Sebenarnya semua wadah pendidikan mengajarkan berbagai macam keragama...