الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ
allażīna yu`minụna bil-gaibi wa yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (Q.s Al-Baqarah : 3)
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering diperhadapkan dengan sesuatu hal yang bersifat "mistis". Itu semua tidak serta-merta harus kita imani adanya tanpa ada hal yang mendasar kita pahami akannya.
Kita seringkali diperdagangkan dengan hal-hal yang berbau mitos, tapi itu semua ada maksud dan tujuannya. Misalkan ketika Maghrib, biasanya anak-anak kecil tidak boleh keluar rumah atau berkeliaran pada waktu itu. Karena, "katanya" pada waktu banyak mahluk (jin/setan) yang sedang berkeliaran.
Orang tua kita selalu menekankan hal itu kepada kita. Pada kesempatan ini saya akan mencoba membuka bagaimana hal seperti itu bisa menjadi sesuatu yang kita percayai.
Saya berangkat dari ketika terjadinya peristiwa perang siffin yang ditandai dengan meletusnya peristiwa tahkim (arbitrase) dari kubu Khalifah Ali bin Abi Thalib RA dengan Muawiyah bin abu Sufyan. Pada peristiwa itu, ada 4c(empat) golongan yang dalam salah satu riwayat muncul.
Pertama, adalah golongan khawarij (Keluar), atau golongan yang keluar dari barisan Ali sekaligus Muawiyah, kelompok ini keluar karena menentang peristiwa tahkim (arbitrase) dan merasa kedua golongan tersebut telah melanggar aturan Tuhan dan menodainya.
Kedua, golongan Sunni. Golongan ini pada dasarnya berada pada pihak Ali, namun bukan berarti menolak apa yang dari pihak lawan Ali. Ringkasnya, netral. Golongan ini sendiri tidak ikut campur dalam peperangan atau peristiwa Arbitrase.
Ketiga, ada golongan Syiah. Sebagai pengikut setia dari Ali yang juga turut dalam peristiwa tersebut. Nah yang terakhir atau golongan keempat adalah golongan atau kelompok perahu.
Kelompok yang terakhir inilah yang pada akhirnya memutuskan untuk mencari aman dan pergi berlayar ke seluruh penjuru dunia, yang sebagian berlabuh di Nusantara. Ada yang meriwayatkan, disini awal mula Islam masuk di Nusantara.
Pada abad ke-III Masehi, sekitaran 500 hingga 1000 ulama fiqh yang dikirim untuk proses penyebaran agama Islam dibumi Nusantara yang pada saat itu, yang tentu di Nusantara sendiri masih berdiri berkembang kerajaan Hindu Budha (Siva dan Brahma). Dalam "Suluk Syekh Siti Jenar" mengatakan bahwa pada masa itu para ulama fiqh dihabisi dengan cara yang mengenaskan. Ada yang bahkan dibunuh untuk selanjutnya dimakan.
Orang-orang Hindu Budha (Siva dan Brahma) masih kental dengan kepercayaan yang masih belum cukup terbuka, bahkan cenderung primitif kala itu. Mereka juga mempunyai ritual yang bisa dibilang mengerikan, ritual ini dilakukan untuk proses mereka mati.
Hindu Budha "Siva", mempunyai ritual yang bernama MUKSO. Suatu ritual yang dipercayai dan dijalankan sebagai suatu proses peleburan jiwa. Ritual ini metodenya adalah dengan bertapa sambil berpuasa, namun ada resiko dalam ritual mukso ini. Resiko yang saya maksud adalah, ketika mereka gagal dalam proses peleburan jiwa atau pelepasan nyawa mereka, tubuh atau jasad atau raga mereka akan mengecil atau menyusut dan arwah atau roh mereka tidak bisa masuk lagi didalam raganya. Walhasil, mereka berubah menjadi yang kita sebut sekarang "jenglot".
Dikalangan Hindu Budha (Brahma), juga ada ritual untuk mati meraka yang dinamai dengan PANCA MAKARA BAYRAWA TANTRA (LIMA MANTRA) yang biasa juga disebut MALIMA.
Sesuai dengan namanya, ada lima ritual yang dilakukan. Yaitu :
1. Makan daging manusia.
2. Minum darah manusia.
3. Joget-joget sambil telanjang bulat.
4. Berhubungan badan (sex), dan
5. Makan nasi (tumpeng).
Kelompok inilah yang diduga kuat telah menghabisi ulama-ulama fiqh yang dikirim dalam proses islamisasi pada masa itu. Barangkali karena merasa budaya mereka merasa diusik, ataukah metode dakwah yang belum sesuai kala itu, ataukah memang budaya mereka yang demikian, ataukah ada sebab yang lain.
Pada abad ke-XIII Masehi, seorang Ulama dari Persia, bernama Syekh Subaeqir diutus ke Nusantara dengan tugas yang sama seperti ulama fiqh sebelumnya. Namun syekh Subaeqir menggunakan pendekatan yang berbeda. Beliau menggunakan metode pendekatan tasawuf, yang lebih ke pemahaman budaya dan tradisi setempat. Metodenya sendiri dengan sangat perlahan menunjukkan hasil yang tidak seperti dialami oleh para Muballigh sebelumnya.
Sampai pada akhirnya, Syekh Subaeqir menikah dengan Ratu penganut Hindu Budha (Brahma). Dari pernikahan keduanya, dianugerahi seorang putra bernama Syekh Maulana Ishak. Geliat dakwah beliaupun kian lebih terbuka dan berirama.
Singkat cerita, karena pada saat itu Syekh Subaeqir telah wafat, kebiasaan dari orang-orang Hindu Budha (Brahma) perlahan-lahan mulai kembali, akhirnya Syekh Maulana Ishak melanjutkan perjuangan dari ayahnya dan berperang dengan sang ibu. Hal itu berlanjut sampai pada munculnya Syekh Jumadil Qubro yang mengakhiri perseteruan itu dengan mengalahkan orang Hindu Budha.
Dengan begitu, penyebaran Islam semakin terbuka dan menjadi lebih ringan. Syekh Jumadil Qubro punya murid bernama Syekh Maulana Malik Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Bonang.
Sunan Bonang inilah yang kemudian mengubah dan menyepuh ritual-ritual itu dengan konsep yang lebih islami agar mereka yang sudah berkehendak untuk mati sesuai ritual mereka sebelumnya, tidak harus membunuh ataupun sampai memakan manusia lagi. Makan daging manusia diubah dengan makan ayam kampung, minum darah diubah dengan minum teh (wedang jahe), makan tumpeng ditambahi dengan bacaan kalimah Thoyyibah yaitu berupa Tahlil. Disinilah juga awal mula Tahlilan diperkenalkan dibumi Nusantara. Kemudian perlahan-lahan mereka diajarkan mengenal Tuhan (Allah/tauhid).
Pada Abad ke-XV Masehi atau yang kita kenal dengan fase Walisongo, disitu para Wali mulai dengan progresif mengenalkan dan mengajarkan Islam, salah satunya adalah konsep yang dibawa oleh Sunan Kalijaga yang mengajarkan Islam lewat akulturasi budaya setempat. Beliau menggunakan dalil-dalil Al-Qur'an untuk memperkenalkan islam.
Sebagai contoh, "Samir Ilal Khoiri fatrukh minal bagho". Yang kemudian diubah menjadi tokoh pewayangan, Samir (Semar), Khoiri (Gareng), fatrukh (Petruk), dan bagho (Bagong). Keempatnya merupakan tokoh fiksi pewayangan dengan masing-masing karakter sebagai media dakwah.
Dari beberapa peristiwa diatas, banyak yang kemudian saat ini menggunakan ritual itu untuk dipergunakan dijalan yang keliru. ambillah contoh, misalnya seperti jenglot, pok-pok, kekebalan, itu semua diperuntukkan sebagai ajang pesugihan dan lain-lain. Seperti yang saya katakan diatas pada bagian awal, tentang hal-hal yang mistis, maka itulah salah satu alasan yang digunakan oleh orang orang tua kita dulu untuk "Dendenan" (menakut-nakuti) kita agar tidak keluyuran pada waktu-waktu tertentu yang sering kita anggap hanya mitos belaka.
Itu semua pun dilakukan agar kita segera berbenah atau bersihkan diri, sembahyang, dan beristirahat. Karena kebiasaan orang-orang dulu memang kebanyakan dari mereka bekerja pada waktu pagi dan pulang diwaktu petang. Padahal kalau kita berangkat dari sejarah masuknya Islam di Nusantara hingga munculnya Walisongo, ternyata hal-hal yang seperti itu memang ada hingga sekarang ini. Bahkan Islam pun mengajarkan kita untuk mempercayai hal yang ghoib.
Mungkin hanya sedikit yang dapat saya sampaikan menurut pemahaman saya yang terbatas, kiranya dapat menambah khazanah pengetahuan bagi sahabat (i) pembaca. Adapun tulisan ini, masih sangat jauh dari kata sempurna. Olehnya, kritik dan saran sangat diharapkan tentu yang bersifat membangun untuk perbaikan kedepannya khususnya bagi saya pribadi. Sekian.
Wallaahul muwaafieq ilaa aqwaamith thoriiq.
Credit by ; Hari Irawan
Bidang Kaderisasi Dan Keilmuan
PK. PMII IAIN PALOPO 17/18


Komentar
Posting Komentar