Langsung ke konten utama

ANREGURUTTA AAD; Ulama timur Nusantara yang mulai dilupakan

Berbicara tentang Islam dan penyebar(an)nya, sudah barang tentu ditemui banyak tokoh-tokoh di dunia ini yg menyebarkan agama Islam hingga menyebar ke seantero dunia dan sampai jagat Nusantara di Indonesia. Sebagai orang islam di Nusantara , yang kini kita bisa menikmati berislam, maka patutlah kita minimal untuk mengenal para tokoh penyebar islam di Nusantara.

Barangkali banyak yang belum mengetahui sosok seorang guru besar penyebar agama islam. Terkhusus di tanah sulawesi, banyak di kalangan remaja sampai mahasiswa yang lupa akan nama dari Anregurutta KH. Abdul Rahman Ambo Dalle. Beliau adalah salah satu tokoh pejuang pendidikan agama Islam yang orientasinya memanusiakan manusia (Insaniatul insaan) lewat ilmu tasawufnya. 

Beliau Banyak membuat karya yang telah dihasilkannya sendiri, seperti pada penuturannya pada majalah "Gatra" tanggal 24 February 1996, beliau telah menghasilkan buku karangan seperti kitab ilmu balagha, ilmu mantiq, ilmu arudhy, dan puluhan buku yang lainnya.

KH. Abdul Rahman Ambo Dalle lahir dari kalangan bangsawan yang masih kental akan budaya. Beliau lahir sekitar tahun 1900 di desa Ujung kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo sekitar 7 km dari Utara Sengkang. Ayahnya bernama Andi Ngati Daeng Patobo dan ibunya bernama Andi Candara Dewi. 

Suatu keistimewaan tersendiri yang dimiliki oleh beliau. Diumur 7 tahun beliau sudah mampu menghapal Al'quran (hafidz). Semasa hidupnya, beliau tidak pernah menuntut apa-apa dari masa pengabdiannya yang begitu panjang dan menyita hampir seluruh hidupnya. Beliau ikhlas karena ia yakin jerih payahnya tidak akan sia-sia. Beliau berpendapat bahwa, "kini rumput telah disiangi benihpun telah di taburkan."

Sebagai orang Bugis, Gurutta telah mengamalkan prinsip yang telah di pegang teguh nenek moyang berabad abad lampau, "ketika layar telah kukembangkan, kemudi sudah ku pasang, kupilih tenggelam dari pada surut kembali."

Gurutta tidak dan tidak akan tenggelam, iapun tidak surut tapi telah sampai mengantar umatnya lepas dari kebodohan dan keterbelakangan. Perjuangannya belum selesai, kini. Sangat tidak pantas apabila dalam kedamaian seperti saat ini, generasi sekarang tidak meneruskan perjuangan beliau.

Dalam pendidikan tasawufnya, beliau memaparkan  tentang konsep pemikiran Taa'abud dan ma'rfa. meskipun beliau tidak menyebutkan hadist Nabi, yaitu "man arafa nafsahu faqad 'arafah rabbahu" (barang siapa yang mengenal dirinya maka dia telah mengenal Tuhannya). Menurut beliau, ungkapan tersebut bukanlah merupakan legitimasi atas nilai yang menyebutkan bahwa awal kejadian manusia adalah terdiri dari empat unsur ( tanah, air, udara, dan api ) atau terdiri dari ( wadi, madzi, mani, dan manika ). 

Pandangan tasawuf Anregurutta Ambo Dalle ini, dengan sendirinya telah membongkar paham atau keyakinan yang menyimpang dari sejumlah "tarekat anti syariat". Banyak ahli ilmu tasawuf yang berkeyakinan bahwa, setelah melewati empat metode ( syari'at, tarekat, hakikat, dan makrifat ), maka orang tersebut akan mencapai puncak perwujudan yang dikenal sebagai "insan Kamil" yang mengalami proses penyatuan manusia dengan Tuhan. Bahkan yang parahnya telah sampai akut, yaitu menganggap dirinya sebagai Tuhan. 

Pendapat Gurutta Ambo Dalle mengenai "Insan Kamil" itu hanyalah wujud dari kelebihan berilmu, bahwa manusia hanya bisa sampai di makrifat. Sebab antara manusia dan Tuhan, ada batasan yang mendasar. Manusia diciptakan sebagai hamba dan untuk menghamba kepada-Nya. Sedangkan Tuhan maha segala atas ciptaan-Nya.


Credit by : Andi Putra
Bidang Kaderisasi Dan Keilmuan
PK. PMII IAIN PALOPO

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seberapa Pentingkah Pendidikan Budaya dalam Era Globalisasi yang Progresif ?

Tentunya, bukan hal yang asing lagi di telinga kita mendengar perkembangan teknologi yang begitu pesat, seiring berjalannya waktu dalam perputaran bumi pada porosnya, khususnya dalam dunia Pendidikan. Barang itu, telah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk dapat menikmatinya pula patut kita Syukuri bersama.  Maka itu pun, bukan menjadi alasan bagi setiap insan yang telah menikmati hasil dari semua ciptaan atas Ciptaan-Nya dengan beranggapan bahwa " Pendidikan Masa Kini tak akan ada pengaruhnya terhadap Masa yang akan Datang ". Artinya, anggapan seperti ini dikeluarkan bahwasanya, apa yang telah ada di masa kini itu sudah menjadi bagian daripada hasil dari masa lampau yang mungkin tetap selalu terkait hingga akhir zaman, namun akan terdikotomi oleh sikap yang tidak etis lagi atau dengan kata lain apatis (acuh tak acuh/masa bodoh) lagi dalam berpikir.  Olehnya, jangan heran jika hari ini kaum-kaum yang bergelut dalam dunia edukasi, itu sudah berkamuflase di poro...

SAYYIDAH AISYAH RA, Sang inspirator perempuan masa kini.

AISYAH merupakan wanita pilihan yang sangat istimewa, sang kekasih Rasulullah SAW. Sosoknya yang sangat cerdas menjadi modal tersendiri olehnya sehingga menjadi wanita yang dihormati dan disegani pada masanya, bahkan mungkin sampai saat ini masih dikagumi berkat kecerdasan yang dimilikinya.   Berbicara tentang sosok Aisyah dengan segala pemikirannya yang cemerlang, ilmu yang meluas, ketegasannya dalam bersikap, dan kepribadiannya yang mulia serta paras fisiknya yang sempurna membuat para kaum hawa masa kini sangat termotivasi, sehingga perempuan masa kini sangatlah ingin berkedudukan seperti sosok Aisyah, kekasih Rasulullah SAW.   Dapat kita ulas kembali beberapa jasa-jasa Aisyah dalam memperjuangkan harkat dan martabat perempuan, diantaranya : - Sosok Aisyah yang istiqomah membela hak perempuan. Tidak dapat dipungkiri, sejak zaman jahiliyah hingga masuknya ajaran islam di Arab, sosok perempuan tetap berada pada level kedua setelah laki-laki, padah...

Refleksi Pola Pikir Generasi Muda Masa Kini

Corak pemikiran generasi muda saat ini bersifat fanatis terhadap sesuatu sepanjang apa yang terlihat olehnya sehingga tak mampu merasai makna yang tersembunyi. Secara realistis, para pemuda-pemudi hari ini disibukkan oleh hal yang berbau selfish, mulai mengupdate status dengan tagar halalkan atau tinggalkan, dan lain-lain. Sehingga mereka terjebak pada dogma yang dilakukan untuk tak lagi memikirkan kesatuan dan perdamaian di negara Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa proses ideologisasi yang begitu massif dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terorganisir untuk memecah belah kesatuan negara kita. Hoax bertebaran di media sosial yang menjadi bahan konsumsi bagi generasi muda, namun parahnya lagi ikut terlibat aktif dalam menyebarkan hoax di jejaring media sosial. Seperti yang sudah diterangkan di atas bahwa generasi muda kian mengagung-agungkan untuk menikah diusia muda, ditambah lagi dengan fenomena stigmatisasi pacaran ala syar'i. Namun belum cukup sadar bahwa ini ...